Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

25 Mei 2015

ANAK-ANAK BOS GOOGLE DAN APPLE TAK MENGINGINKAN ANAKNYA MENGENAL PERANGKAT DIGITAL DI USIA DINI

Orangtua di zaman sekarang, mungkin bakal merasa malu jika anak-anaknya gaptek atau belum memiliki dan bisa mengoperasikan segala perangkat digital semisal telepon seluler pintar maupun komputer.

Sebabnya, kehidupan pada era kekinian kental dengan nuansa komputerisasi. Bahkan, ada anekdot awam yang mengatakan manusia kini tak bakal bisa hidup tanpa seperangkat gadget untuk mengakses dunia maya.

Namun, fakta yang mengejutkan adalah, mayoritas petinggi maupun karyawan perusahaan gadget maupun portal raksasa dunia maya semisal E-bay, Google, Apple, Yahoo, dan Hewlett-Packard, justu tak menginginkan anaknya mengenal semua perangkat digital itu pada usia dini.

Bahkan, mereka mengirim anak-anaknya ke sekolah prestisius yang dikenal tak mau memakai perangkat digital maupun komputer dalam kegiatan belajar-mengajarnya. Sekolah itu, bernama "Waldorf School of the Peninsula", Amerika Serikat.

"Saya secara fundamental menolak gagasan bahwa anda membutuhkan bantuan teknologi digital di sekolah dasar," tegas Alan Eagle, Executive Communications Google.

Karena alasan itu pula, ia menyekolahkan putrinya, Andie, di Waldorf School yang mengandalkan filosofi pendidikan itu harus "memanusiakan manusia".


Seperti dikutip dari The New York Times, kelas-kelas belajar di Waldorf tampak seperti kelas klasik. Tak ada perangkat elektronik, komputer, maupun "tablet" untuk membuka buku elektronik.

Kelas-kelasnya justru berdinding kayu. Mereka juga menggunakan papan dan kapur tulis, buku-buku eksiklopedia, dan buku tulis biasa serta pensil. Para siswa juga secara rutin belajar dan bermain di tanah lapang maupun lahan bercocok tanam milik sekolah.

Andie, putri Eagle yang duduk di kelas V, masih mendapat pelajaran kerajinantangan, yakni membuat kaos kaki. Merajut, menurut guru Waldorf, mampu membantu anak-anak belajar memahami pola dan matematika.

Menggunakan jarum dan benang, dapat mengasah kemampuan siswa memecahkan masalah dan belajar koordinasi.

Cathy Waheed, guru kelas Andie, mengajarkan matematika kepada anak-anak dengan cara sederhana. Ia menggunakan buah-buahan, kue atau roti yang dipotong-potong.

“Saya yakin, dengan cara ini, mereka bisa secara mudah menguasai matematika," tutur Waheed.

Ia mengatakan, mengajarkan siswa menggunakan komputer tak akan membuat mereka lebih pintar.

"Tak ada satu pun penelitian ilmiah yang membuktikan komputer bisa membuat anak-anak pintar. Pendidikan, harus ditujukan sebagai proses anak-anak mengenal diri maupun dunianya secara bebas melalui metode-metode ilmiah," tandasnya.





Penulis Reza Gunadha
Wartawan Tribunnews.com
 

21 Februari 2015

SUKSES MENJADI ORANG TUA (Bag 1)

Anak adalah mata hati bagi orang tua, keceriaan anak akan membuat orang tua bahagia, kesedihan anak akan membuat orang tua merana, kesuksesan anak akan membuat orang tua bangga.
Banyak orang tua di jaman sekarang kurang memperhatikan serta mendidik anak dengan baik, mereka lebih suka untuk menyerahkannya kepada pembantu. Padahal seperti yang kita ketahui anak adalah titipan dari Allah untuk kita, maka kita harus mendidiknya dengan baik.
Ada banyak alasan mengapa mereka tidak mau melakukan itu, alasan sibuk, alasan kerja, tidak mempunyai waktu, mempunyai anak merepotkan dan lain sebagainya.
Maka selayaknya kalau ingin menjadi orang tua yang baik haruslah ada persiapan-persiapan yang harus dilakukan, menjadi orang tua tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan, ada tahapan-tahapan dan proses-proses tertentu yang harus dilakukan. Islam mengajarkan bahwa anak merupakan amanah bagi para orang tua.
Banyak kasus-kasus yang terjadi pada anak-anak usia sekolah adalah, kekurangpahaman orang tua untuk menjadi orang tua, serta kurangnya perhatian orang tua, juga ada yang menitipkan anak pada pembantu bagi yang punya kesibukan, mereka ada yang pergi keluar negeri atau keluar kota demi pekerjaannya, ada juga yang menitipkannya kepada orang tua mereka, dengan alasan mereka melakukan itu untuk memenuhi kebutuhan anaknya, pada kebutuhan anak tidak hanya materi saja, tetapi juga kasih sayang dari orang tua mereka.
Senada dengan pendapat Adhi Fathi Abdillah dalam bukunya Membangun masa depan anak bahwa banyak orang tua yang tidak memahami metode yang benar dalam mendidik dan berinteraksi dengan anak. Kebanyakan mereka masih menggunakan metode-metode kuno yang diwariskan nenek moyang mereka. Padahal sangat mungkin terdapat kesalahan dalam metode warisan tersebut seperti unsur kekerasan yang masih diterapkan orang tua sampai detik ini. Tidak jarang juga kita sebagai orang tua meniru metode atau cara mendidik anak yang diterapkan oleh tetangga atau teman-teman kita yang salah yang malah bisa menimbulkan masalah kelak dikemudian hari.
Secara tidak langsung ketidaktahuan tentang metode dan cara mendidik yang benar akan berpengaruh terhadap anak, atau malah akan menyebabkan mereka terpuruk dan menghancurkan kehidupan masa depan mereka. Padahal maksud kita sebenarnya baik yaitu membawa dan mengarahkan mereka kearah kebaikan.    
Maka disinilah kita perlu mempersiapkan diri untuk menjadi orang tua yang baik yang bisa mendidik dan mengarahkan mereka dengan metode dan cara yang benar.

03 April 2014

KENAPA DOKTER DI NEGARA BARAT PELIT MEMBERIKAN OBAT KEPADA ANAK YANG SAKIT (PENTING UNTUK ORANGTUA) SERTA KLARIFIKASINYA

Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku …tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.
Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.
“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection.” kata dokter tua itu.

“Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?” batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.
“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.
“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”
Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.
“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?”
Aku mengangguk. “Ibuprofen syrup Dok,” jawabku.
Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,”Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja.”
Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.”Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!” Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.
“Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!”
Suamiku menimpali, “Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?”
Aku menarik napas panjang. “Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?”
Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!
Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.
“Just drink a lot,” katanya ringan.
Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.
“Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?” tanyaku tak puas.
“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.
Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
“Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan,” kataku ngeyel.
Dengan santai si dokter pun menjawab,”Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq.”
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.
“Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini.” Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.
Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.
“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?
Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,”Nothing to worry. Just a viral infection.”
Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.
“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,” aku ngeyel seperti biasa.
Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. “Do you know how many times normally children get sick every year?”
Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. “enam kali,” jawabku asal.
“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat,” sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.
Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: “Batuk – pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 – 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 – 3 minggu selama bertahun-tahun.” Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.
“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya,” Lanjut artikel itu. “Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi.
Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun.”
Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda ‘dipaksa’ tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.
Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata ‘pengobatan rasional’. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm… kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.
Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. “Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe,” kataku pada suamiku.
Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.
Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?
Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!
Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‘hanya’ untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.
Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.
Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.
Dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrum
Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=263895757016284&set=a.172674282805099.43033.100001875866018&type=1

 KLARIFIKASI
Sebetulnya sudah sejak lama saya sering mendapatkan kiriman pesan baik langsung maupun tidak langsung, baik positif atau negative, akibat cuplikan bagian I buku ‘smart patient’ (yang tentang cerita malik dan dokter Belanda berjudul ‘Dimana Salahnya’) tersebar di dunia maya tanpa bisa saya kontrol. Akibatnya selain laporan tentang dampak positifnya, timbul juga beberapa persepsi dari pembaca seperti: jadi anti antibiotic dan anti obat kimia. Saya pun menerima masukan bahwa pasien menjadikan buku saya sebagai pegangan untuk tidak percaya pada dokter, dll.

Saya akui bahwa saya salah karena telah membiarkan cuplikan bagian buku tersebut tersebar sehingga menimbulkan salah penafsiran yang ‘out of contex’, karena tidak mendapatkan pesan lengkap dari bukunya. Saya juga menyadari bahwa mungkin ada kata-kata dalam artikel tersebut (maupun dalam buku) yang terasa terlalu ‘harsh’ sehingga beberapa pihak menjadi tersinggung karenanya. Untuk itu saya mohon maaf sebesar-besarnya, sama sekali tidak ada niatan untuk menyinggung, tapi semua terjadi semata-mata karena saya masih dalam proses belajar dan belum piawai dalam menyusun kata. Namun sekali lagi, di dunia maya apapun bisa terjadi dan saya tidak bisa mengontrolnya. Mungkin ceritanya akan menjadi berbeda ketika pembaca tidak semata membaca artikel tersebut tetapi juga membaca secara lengkap isi bukunya dengan benar. Karena itu saya hanya ingin mengklarifikasi bagian yang paling penting bahwa:
Dari tulisan tersebut maupun dari buku yang saya tulis, saya sama sekali tidak pernah menganjurkan untuk menjadi anti obat kimia, anti antibiotic maupun anti dokter. Jika ada yang menafsirkan demikian, mohon maaf tolong baca selengkapnya buku saya dengan benar. Dalam tulisan saya, justru saya menekankan untuk, plis jadilah smart dan rasional, lihat evidence based, lihat apa kata penelitian, liat sumber-sumber terpercaya supaya kita tidak gampang tertipu dan salah. Dalam buku itu saya juga tidak mengatakan untuk anti dokter tapi justru, ayo, tolong, bantulah dokter dan bekerjasamalah dengan dokter. Tidak perlu minum obat kalau tidak perlu, tapi justru harus minum obat kalau memang perlu.Saya tidak menganjurkan obat-obat herbal, bekam dll, yang memang tidak ada dalam buku tersebut bukan karena saya anti terhadap obat-obatan/tindakan tersebut melainkan karena saya memang belum menemukan penelitiannya dalam literature yang saya baca dan saya tidak ingin menulis sesuatu yang saya tidak memiliki bukti medis yang bisa saya pertanggungjawabkan tentangnya. Jika pembaca ingin menganjurkan tentang herbal, bekam dan lain-lain ini kepada yang lainnya, silahkan, tidak ada yang melarang, tapi tolong jangan cantumkan artikel saya ataupun buku saya untuk mendasarinya.

Dengan klarifikasi ini saya hanya berharap semoga tulisan saya tidak disalahgunakan dan disalahtafsirkan. Saat menulis setiap bagian di buku itu, saya selalu usahakan untuk mengawalinya dengan doa dan tak berani saya menulis sebelum membaca sumber-sumber terpercaya. Meski demikian, tetap saja tulisan saya memang jauh dari sempurna karena kesempurnaan hanyalah milikNya. Karena itu sekali lagi saya mohon maaf dan juga saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak, respon yang saya terima kemudian semakin menyadarkan saya akan pentingnya berhati-hati dalam menulis. Saat dalam proses penulisan buku itu, saya bergetar, saya berpikir panjang, saya butuh waktu tahunan sebelum kemudian memutuskan untuk menerbitkan buku itu, karena saya sadar bahwa konsekuensi menjadi penulis dan sebuah tulisan tidaklah gampang. Apapun yang saya tulis harus bisa dipertanggungjawabkan bagi dunia dan akhirat saya. Karena itu, tolong gunakan dan persepsikan tulisan saya sebagaimana mestinya.
Demikian klarifikasi dari saya,
Agnes Tri Harjaningrum, penulis artikel ‘Dimana Salahnya’ yang merupakan bagian dari buku Smart Patient.
Jadwal MotoGP 2014 Trans7 Live Race Dan Jam Tayang. Bagi anda pencinta dunia balap khususnya MotoGP, tentunya tidak ingin ketinggalan jadwal siaran langsung race MotoGP musim 2014. Pada beberapa bulan yang lalu FIM selaku pihak penyelenggara event, telah resmi merilis jadwal race MotoGP 2014 terbaru.

Jadwal MotoGP 2014 Trans7 Live Race Dan Jam Tayang

Di Indonesia sendiri, penayangan balapan MotoGP 2014 akan disiarkan langsung oleh stasiun tv swasta TRANS7, yang pada gelaran musim ini masih memegang kontrak hak siar. Bagi anda yang ingin mengetahui kapan saja jadwal siaran langsung race MotoGP 2014 lengkap dengan jam tayang atau waktunya akan dihelat, pantengin selalu jadwalnya yang akan selalu update hanya di Kiblat Sport.

Jadwal Siaran Langsung MotoGP 2014 Trans7
SeriTanggalSirkuitMotoGPTrans7 Live Race
0124 MaretLosailQatarSenin Dini Hari
00:00 WIB - Moto2 00:20 WIB - MotoGP 02:00 WIB
0214 AprilAmericasUSASenin Dini Hari
00:00 WIB - Moto2 00:20 WIB - MotoGP 02:00 WIB
0327 AprilTermasArgentina22:00 WIB - Moto2 22:20 WIB - MotoGP 24:00 WIB
0404 MeiJerezSpanyol17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0518 MeiLe MansPrancis17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0601 JuniMugelloItalia17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0715 JuniCatalunyaSpanyol17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0828 JuniAssenBelanda17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0913 JuliSachsenringJerman17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1010 AgustusIndianapolisUSA23:00 WIB - Moto2 23:20 WIB - MotoGP 01:00 WIB
1117 AgustusBrnoCeko17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1231 AgustusSilverstoneInggris17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1314 SeptemberMisanoItalia17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1428 SeptemberAragonSpanyol17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1512 OktoberMotegiJepang10:00 WIB - Moto2 10:20 WIB - MotoGP 12:00 WIB
1619 OktoberPhillip IslandAustralia10:00 WIB - Moto2 10:20 WIB - MotoGP 12:00 WIB
1726 OktoberSepangMalaysia13:00 WIB - Moto2 13:20 WIB - MotoGP 15:00 WIB
1809 NopemberValenciaSpanyol18:00 WIB - Moto2 18:20 WIB - MotoGP 20:00 WIB

Jadwal MotoGP 2014 Trans7 Live Race Dan Jam Tayang diatas sewaktu-waktu dapat berubah menurut kebijakan FIM dan race direction juga Trans7 selaku pihak penyelenggara serta pihak penyiaran MotoGP 2014 yang resmi. - See more at: http://kiblatsport.blogspot.com/2014/03/jadwal-motogp-2014-trans7-live-race.html#sthash.XoOFtXBJ.dpuf
Jadwal MotoGP 2014 Trans7 Live Race Dan Jam Tayang. Bagi anda pencinta dunia balap khususnya MotoGP, tentunya tidak ingin ketinggalan jadwal siaran langsung race MotoGP musim 2014. Pada beberapa bulan yang lalu FIM selaku pihak penyelenggara event, telah resmi merilis jadwal race MotoGP 2014 terbaru.

Jadwal MotoGP 2014 Trans7 Live Race Dan Jam Tayang

Di Indonesia sendiri, penayangan balapan MotoGP 2014 akan disiarkan langsung oleh stasiun tv swasta TRANS7, yang pada gelaran musim ini masih memegang kontrak hak siar. Bagi anda yang ingin mengetahui kapan saja jadwal siaran langsung race MotoGP 2014 lengkap dengan jam tayang atau waktunya akan dihelat, pantengin selalu jadwalnya yang akan selalu update hanya di Kiblat Sport.

Jadwal Siaran Langsung MotoGP 2014 Trans7
SeriTanggalSirkuitMotoGPTrans7 Live Race
0124 MaretLosailQatarSenin Dini Hari
00:00 WIB - Moto2 00:20 WIB - MotoGP 02:00 WIB
0214 AprilAmericasUSASenin Dini Hari
00:00 WIB - Moto2 00:20 WIB - MotoGP 02:00 WIB
0327 AprilTermasArgentina22:00 WIB - Moto2 22:20 WIB - MotoGP 24:00 WIB
0404 MeiJerezSpanyol17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0518 MeiLe MansPrancis17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0601 JuniMugelloItalia17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0715 JuniCatalunyaSpanyol17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0828 JuniAssenBelanda17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0913 JuliSachsenringJerman17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1010 AgustusIndianapolisUSA23:00 WIB - Moto2 23:20 WIB - MotoGP 01:00 WIB
1117 AgustusBrnoCeko17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1231 AgustusSilverstoneInggris17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1314 SeptemberMisanoItalia17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1428 SeptemberAragonSpanyol17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1512 OktoberMotegiJepang10:00 WIB - Moto2 10:20 WIB - MotoGP 12:00 WIB
1619 OktoberPhillip IslandAustralia10:00 WIB - Moto2 10:20 WIB - MotoGP 12:00 WIB
1726 OktoberSepangMalaysia13:00 WIB - Moto2 13:20 WIB - MotoGP 15:00 WIB
1809 NopemberValenciaSpanyol18:00 WIB - Moto2 18:20 WIB - MotoGP 20:00 WIB

Jadwal MotoGP 2014 Trans7 Live Race Dan Jam Tayang diatas sewaktu-waktu dapat berubah menurut kebijakan FIM dan race direction juga Trans7 selaku pihak penyelenggara serta pihak penyiaran MotoGP 2014 yang resmi. - See more at: http://kiblatsport.blogspot.com/2014/03/jadwal-motogp-2014-trans7-live-race.html#sthash.XoOFtXBJ.dpuf
Jadwal MotoGP 2014 Trans7 Live Race Dan Jam Tayang. Bagi anda pencinta dunia balap khususnya MotoGP, tentunya tidak ingin ketinggalan jadwal siaran langsung race MotoGP musim 2014. Pada beberapa bulan yang lalu FIM selaku pihak penyelenggara event, telah resmi merilis jadwal race MotoGP 2014 terbaru.

Jadwal MotoGP 2014 Trans7 Live Race Dan Jam Tayang

Di Indonesia sendiri, penayangan balapan MotoGP 2014 akan disiarkan langsung oleh stasiun tv swasta TRANS7, yang pada gelaran musim ini masih memegang kontrak hak siar. Bagi anda yang ingin mengetahui kapan saja jadwal siaran langsung race MotoGP 2014 lengkap dengan jam tayang atau waktunya akan dihelat, pantengin selalu jadwalnya yang akan selalu update hanya di Kiblat Sport.

Jadwal Siaran Langsung MotoGP 2014 Trans7
SeriTanggalSirkuitMotoGPTrans7 Live Race
0124 MaretLosailQatarSenin Dini Hari
00:00 WIB - Moto2 00:20 WIB - MotoGP 02:00 WIB
0214 AprilAmericasUSASenin Dini Hari
00:00 WIB - Moto2 00:20 WIB - MotoGP 02:00 WIB
0327 AprilTermasArgentina22:00 WIB - Moto2 22:20 WIB - MotoGP 24:00 WIB
0404 MeiJerezSpanyol17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0518 MeiLe MansPrancis17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0601 JuniMugelloItalia17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0715 JuniCatalunyaSpanyol17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0828 JuniAssenBelanda17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
0913 JuliSachsenringJerman17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1010 AgustusIndianapolisUSA23:00 WIB - Moto2 23:20 WIB - MotoGP 01:00 WIB
1117 AgustusBrnoCeko17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1231 AgustusSilverstoneInggris17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1314 SeptemberMisanoItalia17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1428 SeptemberAragonSpanyol17:00 WIB - Moto2 17:20 WIB - MotoGP 19:00 WIB
1512 OktoberMotegiJepang10:00 WIB - Moto2 10:20 WIB - MotoGP 12:00 WIB
1619 OktoberPhillip IslandAustralia10:00 WIB - Moto2 10:20 WIB - MotoGP 12:00 WIB
1726 OktoberSepangMalaysia13:00 WIB - Moto2 13:20 WIB - MotoGP 15:00 WIB
1809 NopemberValenciaSpanyol18:00 WIB - Moto2 18:20 WIB - MotoGP 20:00 WIB

Jadwal MotoGP 2014 Trans7 Live Race Dan Jam Tayang diatas sewaktu-waktu dapat berubah menurut kebijakan FIM dan race direction juga Trans7 selaku pihak penyelenggara serta pihak penyiaran MotoGP 2014 yang resmi. - See more at: http://kiblatsport.blogspot.com/2014/03/jadwal-motogp-2014-trans7-live-race.html#sthash.XoOFtXBJ.dpuf

10 Desember 2013

Mendisiplinkan Anak

Mendidik anak untuk jadi disiplin tak berarti Anda harus jadi otoriter dan galak. Mendisiplinkan anak juga bisa dilakukan dengan cara yang penuh cinta. Hanya saja, sering kali saat Anda "lunak" terhadap anak, mereka bisa saja bertingkah dan banyak ulah. Akibatnya, emosi Anda pun meledak.

Dr Kelly Flanagan, seorang psikolog klinis, mengungkapkan, sebenarnya setiap orangtua punya kemampuan untuk mendisiplinkan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang, tanpa harus marah-marah.

Flanagan mengungkapkan, salah satu kesalahan yang sering dilakukan orangtua adalah mereka kurang memiliki empati terhadap anak-anaknya. Padahal, kunci utama untuk mendisiplinkan anak dengan cinta adalah masuk ke dalam dunia anak-anak.

"Banyak orangtua yang lupa bagaimana rasanya menjadi anak kecil. Anda lupa bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak punya kekuatan apa pun, punya kehidupan yang selalu diatur setiap hari, dan kehilangan semua kesenangan karena dilarang orangtua. Kita lupa semua itu dan hanya fokus pada kesalahan anak," jelas Flanagan.

Ia menambahkan bahwa ketika orangtua tidak bisa mencari dan menemukan empati terhadap anak-anak di hati kecilnya, maka Anda melepaskan peran sebagai pemimpin keluarga. Jika ingin memimpin dan mendidik anak-anak dengan baik, maka pertama-tama Anda harus menemukan sisi anak-anak dalam diri sendiri. Bagaimana Anda bisa melakukannya?

1. Bertanya
Alih-alih mendikte anak-anak untuk melakukan sesuatu, sebaiknya bertanyalah kepada mereka. Misalnya, bertanya tentang apa yang mereka ingin lakukan, atau mengapa mereka melakukan hal yang salah. Ajak mereka duduk bersama sambil menikmati camilan atau minuman hangat. Dengarkan apa keinginan mereka, dan jika menemukan pertentangan, bicarakan dengan kepala dingin.

2. Mengingat
Sebagai orang dewasa, Anda sudah pasti pernah menjadi anak kecil. Temukan kembali memori dan sisi anak-anak dalam diri Anda. Hal ini tak berarti memori situasi yang sama, tapi pengalaman dari perasaan yang sama. Jangan mencoba lari dari perasaan ini. Ingatlah bagaimana saat itu orangtua Anda mengatasi masalah ini dan Anda bisa mencontohnya.

3. Rasakan metode pengasuhan yang Anda terapkan
Cobalah untuk mencari tahu bagaimana rasanya diasuh dengan cara asuh Anda dan pasangan. Tempatkan posisi Anda sebagai anak-anak, dan pasangan sebagai "orangtua" Anda. Lakukan beberapa kesalahan yang sering dilakukan anak dan beri hukuman sesuai aturan Anda. Dengan demikian, Anda jadi tahu bagaimana rasanya berada di posisi anak-anak Anda.

4. Bermain dengan anak
Ini adalah bagian yang sangat menyenangkan. Sibukkan diri Anda dan dekatkan diri dengan anak-anak lewat aneka permainan anak. Ingatlah bagaimana rasanya bermain bebas. Santai dan nikmati semua permainan agar bisa mengerti isi pikiran anak.

Namun, apakah semua ini berarti Anda bisa membiarkan anak-anak melakukan apa pun yang mereka inginkan? Tentu tidak, tapi ini berarti bahwa ketika Anda melarang, menetapkan batas tertentu atau sampai menghukum anak atas kesalahannya, Anda melakukannya dengan pikiran yang jernih, memahami kondisi anak, dan empati.




Andhika Setyanti
Sumber Kompas.com

02 Desember 2013

Bermain Dengan Anak

Masa anak-anak adalah masa di mana mereka belajar mengenal dunia lewat bermain. Bermain menjadi sarana sekaligus jembatan antara apa yang ada dalam alam fantasi mereka dengan apa yang (bisa) mereka wujudkan. Anak tidak melihat permainan sebagai "bermain" sebagaimana orang tua atau orang dewasa menganggap bermain adalah sesuatu yang tidak riil. Anak-anak yang lebih kecil menganggap bermain adalah sebuah realita seperti halnya orang dewasa bekerja, bersekolah, membereskan rumah, dsb. Bermain adalah dunia dimana mereka berada dan memberi makna terhadap segala sesuatu yang mereka hadapi dalam permainan itu.

Dalam acara bermain, anak-anak bisa belajar mengenali apa yang bisa mereka lakukan sendiri dan mana yang perlu bantuan orang tua. Anak-anak belajar mengukur kemampuan diri dan mengukur tantangan yang ada. Bahkan menurut penelitian yang dilakukan Lewis (2000), anak-anak usia 1-6 tahun belajar mengembangkan kemampuan problem solving dari bermain; karena bermain menghadirkan berbagai konteks dan situasi yang harus mereka hadapai on the spot. Lewat bermain, anak menemukan cara-cara kreatif dan unik dalam mengatasi masalah.

Sebenarnya jika diringkas, banyak sekali manfaat bermain bagi anak, selain yang sudah disebutkan di atas. Sebuah studi yang dilakukan dalam kurun waktu bertahun-tahun menemukan anak yang ketika kecil (usia 4 tahun) gemar bermain blocks atau lego, ketika SMA memperlihatkan kemampuan matematika yang lebih tinggi.


Problem Dalam Bermain
Dewasa ini, bermain menjadi kurang bermakna dan kurang manfaatnya, dan bahkan terlalu banyak kerugiannya. Apakah yang salah dengan bermain ini ?1. Tidak jelas tujuannya Kita sering menjumpai anak-anak yang bermain just for killing time, menghabiskan waktu, entah karena kurang kegiatan atau menunggu orang tua, supir atau jemputan. Masalahnya, permainan favorit untuk killing time adalah game atau sejenisnya yang tersedia di handphone atau smartphone, ipad, dst. Ada yang baik, tapi lebih banyak yang destruktif, seperti game yang berdarah-darah, pukul-pukulan, tembak-tembakan, yang membuat pemainnya puas kalau sudah bisa membunuh sebagai solusi satu-satunya dan mendapat reward yang paling besar.

Dalam Journal of Adolescence 27 (2004) 5-22 memuat hasil penelitian dampak hostile video game terhadap remaja. Sebagai permainan yang "paling digemari" abad ini, game yang hostile ternyata membuat remaja lebih hostile, agresif dan kasar, dalam berargumentasi dengan guru/authority figure dan lebih sering terlibat perkelahian fisik serta membuat prestasi belajar memburuk. Fenomena di Indonesia dewasa ini, anak-anak kecil usia sekolah dasar bahkan TK sudah di expose oleh permainan-permainan hostile lewat game dan TV. Dengan temuan itu, dapat dibayangkan bagaimana jadinya anak-anak masa depan kita.

2. Tidak sesuai medianya dan kebutuhan anak
Kita lihat banyak beredar game yang tidak peduli kategori usia, yang penting laku keras. Padahal, permainan hostile itu untuk dewasa. Sama halnya dengan tontonan TV, meski pun itu film Popeye atau pun Mr Bean bahkan Tom and Jerry,  Sponge Bob,  Bart Simpson, film-film tersebut banyak  menayangkan plot, alur cerita, atau kejadian yang tidak cocok dikonsumsi anak-anak kecil yang dalam proses pembentukan nilai. Film-film itu sebenarnya miniatur orang dewasa, sehingga alhasil anak-anak benar-benar menjadi miniatur orang dewasa karena meniru tokoh kartun di TV yang dibuat ala pikiran (dan delinquency-nya) orang dewasa.

3. Tidak ada engagement atau keterlibatan
Kerap terjadi, anak-anak disuruh bermain dan diberi permainan agar tidak mengganggu atau merepotkan orang dewasa/orangtua. Ada orangtua yang enggan bermain dengan anak, karena sibuk, atau tidak nyambung dengan anaknya karena perbedaan dunia yang tak (mau) diselami.
Baby sitter atau mbak, tidak selalu jenis yang mau dan mampu menyelam ke dalam dunia anak, karena sebagian menganggap tugas utama adalah menjaga dan melayani dalam arti harafiah. Ketika permainan dilakukan tidak dengan hati, maka proses bermain menjadi lebih hambar. Dalam kehambaran itulah, tidak terbangun kepekaan dan empati yang sebenanarnya bisa diasah lewat bermain. Alhasil anak mudah bosan dan mudah frustrasi. Sebaliknya, dalam permainan yang engaging, akan ada diskusi dua arah yang membuka kemungkinan solusi. Bermain mobil-mobilan, polisi-polisian, pemadam kebakaran, masak-masakan, semua yang "biasa-biasa" bisa menjadi hidup dan menarik jika pemainnya terlibat secara emosi dan tentunya, fantasi. Tanpa keterlibatan jiwa raga, permainan mahal pun belum tentu mampu menghadirkan makna dan dampak yang dasyat pada anak.

Edward Fisher seorang psikolog menemukan keterkaitan antara bermain dengan perkembangan ketrampilan berbahasa. Ia menemukan bahwa bermain role play, meningkatkan kemampuan kognitif-linguistik dan sosial afektif anak. Itu sebabnya bermain dengan hati menjadi penting untuk menciptakan suasana bermain yang hidup dan menyenangkan.


Kendala Anak Untuk Bermain
Beberapa hal yang sering menjadi kendala anak dalam bermain, adalah kurangnya area bermain seperti tempat lapang dan rerumputan yang kini sangat langka terutama bagi anak-anak perkotaan. Sarana permainan yang bisa dinikmati dan dimanfaatkan publik pun hampir tidak tersedia, kecuali ke arena bermain di mall dan harus membayar. Selain persoalan di atas, ada kendala yang lebih krusial dan substansial karena kendala tersebut ada di hadapan mata dan terjadi hampir setiap hari tanpa disadari oleh para orangtua. Kendala yang bisa diistilahkan sebagai inhibitor, yakni :

1. Ketakutan orangtua
"Awas jatuh!", "Jangan, pokoknya nggak boleh naik-naik", "awas bisa tergelincir lho". Banyak ungkapan yang disuarakan orangtua ketika sedang bersama anaknya di tempat umum. Sikap orangtua yang overprotective, membuat anak kurang percaya diri dan tergantung. Kecemasan dan ketakutan orangtua terbaca oleh anak sebagai ekspresi ketidakpercayaan mereka terhadap kemampuan anak mengatasi situasi saat itu. Mekanismenya demikian, ketika orangtua tidak percaya pada anak, pada akhirnya anak meragukan dan mempertanyakan kemampuan mereka. Selanjutnya, anak akan membatasi diri sebelum mereka mengeksplorasi kemungkinan dan kesanggupan, before they reach their upper limit. Inilah yang menjadi sumber inferioritas dan rendahnya harga diri.
 
2. Nilai
Nilai yang dimiliki dan diyakini orangtua berpengaruh terhadap anak. Sebagai contoh ada seruan "anak  laki tidak boleh masa-masakan, nanti jadi  homo". Sementara konsep homo sendiri jauh dari jangkauan pikiran anak-anak yang masih innocence. "Anak perempuan kok manjat-manjat, ayo turun, kamu bukan anak laki". Sebagian orangtua menganggap mendidik anak harus keras dan anak harus dibatasi sebagaimana tradisi keluarga. Orangtua ini akan menghalangi proses eksplorasi anak terhadap dirinya dan dunia serta masa depannya.

3. Ego
"Jangan main di pantai, panas, nanti mama jadi hitam" atau "Nonton acara mama saja, lebih seru daripada nonton kartun" atau "Main sama Mbak sana, papa sedang sibuk nih, ini lebih penting soalnya!". Tanpa disadari, kebutuhan dan keinginan orangtua berlomba dengan kebutuhan anak, untuk direalisasikan.  Situasi ini sebenarnya mendudukkan orangtua menjadi kekanak-kanakan dan mendudukkan anak menjadi yang lebih tua karena akhirnya anaklah yang mengalah demi orangtua.


Apa yang akan terjadi ?
Jika dibiarkan, proses learning by doing and experiencing menjadi terhambat karena terkendala berbagai hal. Sementara, ada banyak tugas perkembangan yang harus dijalankan oleh anak-anak kita dalam rangka pengembangkan berbagai komponen yang sangat krusial bagi proses pertumbuhan, kematangan dan keberhasilan hidup mereka di masa mendatang. Komponen tersebut adalah :
  • Kemampuan survival, yakni kemampuan untuk bertahan dan keluar sebagai pemenang dalam kehidupan, mampu mengendalikan kehidupan dan tidak membiarkan diri menjadi korban keadaan.
  • Kemampuan empati, kemampuan untuk memahami keadaan, perasaan, kesulitan, keterbatasan dan kemanusiaan orang lain, sebagaimana ia memahami dirinya sendiri
  • Kemampuan mengelola emosi, yakni kemampuan mengolah perasaan, hingga mempunyai kepekaan rasa dan ketajaman intuisi
  • Kemampuan beradaptasi, kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar maupun hal-hal baru
  • Kemampuan bertumbuh, kemampuan untuk terus mencari dan melakukan pertumbuhan, untuk keluar dari rasa nyaman (comfort) untuk menemukan sesuatu yang lebih baik.
  • Kemampuan recovery dan rekonstruksi, kemampuan bangkit dari kegagalan, belajar dari kegagalan maupun memperbaiki kesalahan
  • Kemampuan mencari yang hakiki, mencari keutamaan sejati, kemampuan untuk membedakan, apa yang terutama dan utama dalam hidup ini, apa yang menjadi impian dan panggilan hidupnya kelak.
  • Kemampuan membangun nilai infrastruktur, kemampuan untuk mengadopsi dan menginternalisasi nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi dalam bersikap dan bertindak.

Solusi Bermain Dengan Asik
Sampai kapanpun, anak akan membutuhkan bermain, oleh karenanya, tantangan untuk menghadirkan permainan dan waktu bermain yang berkualitas adalah tantangan bagi orangtua modern. Solusi untuk bermain di jaman modern ini tidaklah terlalu sulit untuk dijalankan meskipun terkendala arena maupun sarana. Semua itu adalah nomer 2, yang terpenting adalah keterlibatan orangtua (dan pengasuh), hubungan yang terjalin antara orangtua dengan anak serta kreativitas orangtua atau pengasuhnya dengan anak yang diajak bermain. Pada dasarnya semua anak kreatif, namun orang dewasa kerap kehilangan kreativitas dan kehilangan minat serta daya fantasi untuk bermain mengikuti irama anak. Ada beberapa prasyarat untuk mengupayakan terjadinya permainan yang seru dan berkualitas :
  • Lepaskan keinginan "Jaga Image". Jaga image memperbesar jarak dengan anak sehingga tidak terjadi chemistry yang membuat suasana bermain menjadi hidup.
  • Lepaskan idealism dan judgment. Idealisme dan judgment membuat kita cenderung menilai segala sesuatu dan akhirnya kehilangan minat untuk bermain karena segala sesuatu diukur pakai kaca mata penilaian dan "apa kata orang lain"
  • Berusahalah.  Banyak permainan murah dan asik bisa dilakukan jika kita sebagai orang dewasa mau mengupayakannya terlebih dahulu. Misalnya, ingin bermain sambil melakukan percobaan sederhana di rumah, maka orangtua atau pendamping perlu menyiapkan bahan-bahannya, dengan dibantu oleh anak agar keterlibatan itu terbangun sejak awal. Tanpa usaha, maka permainan yang murah dan mendidik tidak akan terwujud.
  • Bergeraklah. Banyak permainan sederhana yang bisa terwujud jika kita mau bergerak. Persoalannya dewasa ini orang dewasa cenderung malas bergerak, namun lebih banyak menghabiskan waktu pada komputer, handphone maupun televisi atau smartphone lainnya.
  • Biasakanlah. Buatlah agar bermain dengan anak menjadi sebuah kebiasaan dan kebutuhan kedua belah pihak. Ikatan emosional akan terjalin dengan sendirinya ketika kita memberikan diri kita sepenuhnya sebagaimana anak-anak memberikan diri mereka sepenuhnya pada "that very moment". Ikatan itu lah yang akan membuat hubungan orangtua-anak menjadi hubungan yang terbuka dan saling menghargai, saling mengerti dan mendukung; orangtua dan anak adalah satu team. 
 
Beberapa  jenis permainan yang solutif
  • Membuat percobaan ilmiah yang sederhana, dengan bahan-bahan yang tersedia di rumah. Permainan percobaan ini tidak hanya menyenangkan tapi juga mendidik.
  • Bermain  instrument musik dengan perlengkapan dapur atau benda-benda yang aman lainnya. Membuat sendiri alat music juga menyenangkan dan bisa digunakan terus menerus.
  • Bermain bowling dengan botol bekas dan bola
  • Bermain basket dengan ember digantung dan bola yang ringan
  • Bermain bulu tangkis
  • Tebak kata maupun teka-teki
  • Bermain peran seperti pemadam kebakaran, piknik ke kebun binatang, polisi penjaga pantai, polisi lalu lintas, little chef, dsb
  • Bermain lego, catur, ular tangga dan monopoli serta permainan sejenis lainnya. Kita bisa membuat sendiri ular tangga atau monopoli  dengan tantangan yang lebih menarik.
  • Treasure hunting, dengan menggambar peta sendiri dan menyembunyikan beberapa harta karun di sudut-sudut rumah.. Permainan ini bisa dimainkan secara kelompok, cocok untuk liburan atau pesta.
  • Membuat kue, yang tidak membutuhkan api dan kompor, atau dibantu orang dewasa pada saat memanggangnya
  • Art and craft dengan bahan bekas, misal kotak tissue yang tak terpakai, daun kering, dsb
  • Bercocok tanam di polybag dan memelihara tanaman maupun binatang peliharaan
  • Bermain dengan kaca pembesar untuk melihat benda-benda lebih dekat
  • Bermain lompat tali atau permainan tradisional seperti congklak, bola bekel, dsb
  • Bermain outdoor seperti berenang, sepeda, sepatu roda, skate board, hingga latihan memanjat pohon (jika masih ada pohon yang bisa dipanjat).
Banyak permainan yang bisa dilakukan, namun semua membutuhkan usaha dan kemauan terutama dari pihak orangtua atau pengasuh. satu hal yang perlu diketahui pula, bahwa pada dasarnya jika orangtua ikut berpartisipasi dalam permainan anak-anak mereka, orangtua juga akan merasakan manfaat yang besar bagi tubuh dan jiwa mereka. Bermain bagi orang dewasa juga bermanfaat untuk merevitalisasi kembali energi, mengobati stress, menumbuhkan kreativitas, harapan dan impian, mengatasi rasa kesepian dan kesedihan, serta meningkatkan daya tahan menghadapi tekanan dan kehidupan. Masih banyak manfaat bermain lainnya bagi orang dewasa. Oleh karenanya, bagi siapapun yang masih mempunyai anak kecil di rumah, bermainlah bersama agar chemistry yang terjalin membangun energy positif bagi kedua pihak dan membangun karakter anak yang lebih percaya diri dan positif. 





 
 
 
 
 
Oleh : Jacinta F. Rini 
e.psikologi.com

18 Juni 2013

Ingin Anak Cerdas, Gunakan Mainan


Mainan Anak
Mainan Anak


Ahli anak Fisher-Price Carrie Lupoli menyebut, mainan bisa memengaruhi perkembangan kecerdasan dan karakter anak.
"Menggunakan mainan dalam bermain memudahkan anak untuk berinteraksi, bersosialisasi dan membentuk karakter," kata Lupoli di Jakarta, Jumat (14/6).
Mainan juga disebutnya dapat melatih kognitif dan emosi anak. "Sangat berbeda antara hanya diperlihatkan gambar apel dengan diberi apel. Sehingga anak bisa melihat, mendengar dan meraba bentuknya," kata dia.
Berdasarkan penelitian, lanjutnya, ada perbedaan mencolok antara siswa yang lulus dan drop out. Yaitu pada proses belajar dan bermain ketika mereka berusia empat tahun.
Dia menegaskan, berinteraksi dengan orang dewasa saat mereka tengah giat bermain dan menyelidiki mainan adalah proses terbaik untuk anak.
"Kedekatan hubungan akan menjamin berbagai keberhasilan jangka panjang dalam belajar. Termasuk membangun hubungan serta keterampilan hidup sehari-hari," katanya.
Sedangkan psikolog anak Vera Itabiliana menjelaskan usia 0-5 tahun adalah masa emas anak untuk menyerap nilai, norma dan pelajaran.
"Dunia anak itu dunia main. Setiap hari main, tapi harus ada nilai plusnya. Ketika bermain itu kan senang, kalau senang akan banyak pelajaran yang terserap dari pada kalau lagi bete (suasana hati tidak menyengkan)," katanya.
Vera mengimbau  orang tua ikut berpartisipasi dalam permainan anak, bukan hanya menyediakannya. "Meski mainannya bagus, kalau interaksinya tidak seru, anak akan meninggalkan," katanya.






Sumber : Antara

28 Mei 2013

Pentingnya Pola Asuh Demokratis pada Anak


Anak kecil bukan orang dewasa berukuran mini. Dengan kepribadian dan dunia yang khas, orangtua harus memasuki dunia anak-anak untuk memahami dan mengenal siapa diri mereka. Dengan memasuki dunia anak, para orangtua akan lebih mengetahui dan menghargai berbagai kelebihan serta kekurangan anak.

Menurut psikologTika Bisono, orang tua perlu memahami dan mengenal dunia anak mereka untuk mengembangkan pola asuh yang demokratis.

"Nantinya pola asuh akan lebih demokratis. Tidak ada pemaksaan antar anak dan orangtua," kata psikolog Tika Bisono, Sabtu (27/4/2013) di Jakarta.

Pola asuh demokratis memungkinkan orangtua dan anak saling menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan dirinya. Pola asuh demokratis, papar Tika, memprioritaskan kepentingan anak, tetapi tidak ragu dalam mengendalikan mereka.

Orang tua seperti ini bersikap rasional dan selalu mendasari tindakannya pada pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak. Mereka tidak berharap lebih pada kemampuan yang dimiliki anak. Orang tua demokratis  juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih. Mereka juga membebaskan anak dalam memutuskan suatu tindakan. Apabila hendak menasehati, orangtua demokratis selalu melakukannya dengan pendekatan yang hangat.

Pola asuh demokratis cocok diterapkan pada usia 6-12 tahun. Pada tahap ini anak mulai mampu memilih apa yang diminati. Anak juga tertarik pada hal baru, dan cenderung bosan pada sesuatu yang monoton. Yang lebih penting, menurut Tika, anak mulai faham hal yang bersifat konseptual seperti hak dan kewajiban.

"Demokratis mengharuskan orangtua memberi alasan logis pada tiap aturan yang diberikan, jadi tidak asal suruh. Pola asuh demokratis memungkinkan anak bebas tapi tetap bisa bertanggungjawab," kata Tika.

Dengan kebebasan yang ada, pola asuh demokratis memungkinkan anak dan orangtua berekspresi terkait keadaan di sekelilingnya. Sehingga, orangtua harus memperhatikan dengan tepat kapan ekspresi dan mood anak berubah. Perubahan mood akan menentukan cara berkomunikasi antar orangtua dan anak, sehingga menjadi lebih efektif.

diambil dari kompas.com

Bagaimana Bahasa dan Suara Pengaruhi Perilaku Anak

 
Saat berkomunikasi dengan anak, para orang tua perlu disarankan untuk menyeimbangkan nada suara dengan kata-kata. Seorang anak tidak terlahir rmengerti suatu bahasa, tetapi mereka dibekali keinginan untuk berkomunikasi.

Anak mengenali bahasa dengan sangat cepat. Semua kata seakan melingkupi dunia mereka. Tetapi, kata-kata bekerja dengan dua arah. Ketika mendengar, anak juga akan bereaksi. Faktor orangtua dan lingkungan akan membentuk tingkah laku anak, bersandar pada bagaimana mereka memperhatikan apa yang diucapkan dan bagaimana cara mengatakannya.

- Masa bayi
Sebelum lahir, bayi sebenarnya sudah belajar bahasa. Ketika lahir, bayi tidak hanya cenderung mendengar suara ibu. Teapi juga pada bahasa yang kerap digunakan oleh ibu. Menurut penelitian yang dilakukan para ilmuwan dari Utrecht University, bayi dapat membedakan bahasa Belanda dan China sebaik orang dewasa.

Bayi juga mengerti irama dan warna bahasa jauh sebelum mereka mengerti artinya. Penting artinya untuk diingat para orang tua. Bayi akan lebih banyak menyimak dari nada bicara Anda ketimbang makna kata-kata yang diucapkan. Menggunakan bahasa dengan irama cepat dan nada yang keras akan mengakibatkan kegelisahan. Sementara menggunkan irama yang pelan dan lembut akan menenangkan bayi yang gelisah.

- Anak kecil dan usia pra-sekolah
Saat mereka mulai belajar jalan, beberapa anak mulai mengerti kata-kata. Masa kanak-kanak adalah yang tahap paling penting dalam mengembangkan kemampuan berbahasa seorang anak. Ketika berbicara, bayi tampak lucu, namun beberapa guru Montessori menyarankan orangtua berbicara dengan irama bicara layaknya orang dewasa. Gunakan kalimat yang lengkap dengan kata-kata yang akurat untuk menyebut anggota tubuh berikut fungsinya.

Berikan pula instruksi yang jelas. Saat menginjak usia pra skeolah, anak mulai mampu mengikuti tiga atau empat instruksi sekaligus. Ketika anak melakukan kesalahan, sebaiknya ditegur tanpa menghukum atau mengoloknya. Bila benar, tidak ada salahnya memberikan penghargaan untuk memacu semangatnya.

- Anak dan remaja

Gunakan bahasa bermakna positif pada anak dan remaja untuk membangun kekuatan personal dan pengendalian dirinya. Namun bukan berarti orangtua harus membanggakan anak, apapun yang dia lakukan. Misalnya, orangtua dapat mengatakan, "Hebat, sudah bisa membersihikan kamar sendiri," daripada sekedar berkata, "Anak mama hebat."

Kalimat pertama menunjukkan orangtua mengakui kemampuan anak. Sedangkan yang kedua justru menunjukkan kebanggaan orangtua tanpa mengakui kemampuan diri anak.

Bahasa, nada, dan kemarahan
Orangtua harus menjadi contoh. Anak yang hidup dengan kemarahan dan orang tua yang kasar, akan belajar hal yang sama. Bila orangtua merasa marah dan putus asa, sebaiknya jangan berteriak. Hal ini akan mengajarkan anak untuk melakukan hal yang sama. Daripada berteriak, orangtua lebih baik mengatakan apa yang membuat kesal. Misalnya jangan mengatakan,

"Kenapa kamu nggak ngerjain PR?," lebih baik "Kalau adek ngerjain PR, nilai adek jelek. mama bisa marah." Berbagai dengan suara yang tenang mengajarkan anak berkomunikasi secara baik dan jelas

Anak yang Dibesarkan Orangtua Lengkap Lebih Cerdas?

Sebuah penelitian mengindikasikan, peran ayah dan ibu dalam pengasuhan memberi pengaruh besar terhadap proses tumbuh kembang anak.  Anak yang dibesarkan oleh kedua orangtuanya berpotensi menjadi pribadi yang cerdas, bahkan lebih pintar dibandingkan anak yang hanya diasuh oleh single parent. Stimulasi lengkap dari kedua orang tua memungkinkan anak mampu mengembangkan sel otak lebih banyak.
Ini merupakan hasil kajian para ilmuwan dari Hotchkiss Brain Institute (HBI), Calgary University, Kanada.  Dalam risetnya, peneliti menggunakan hewan tikus yang diasuh satu dan dua orangtua. Selama penelitian, tim peneliti memantau perkembangan sel otak lahir sampai tua. Hasilnya, sel otak terbanyak diperoleh pada tikus yang diasuh oleh dua orangtua dibandingkan yang hanya satu.

"Semasa bayi, mereka menerima lebih banyak perhatian dan perawatan. Rasa sayang dan peduli ini yang berperan pada perkembangan otaknya," kata Direktur HBI, Dr. Samuel Weiss.

Peneliti berasumsi, bayi dengan orangtua lengkap lebih sedikit memiliki kemungkinan mengalami trauma. Sehingga, bayi yang diasuh orangtua lengkap berkesempatan tumbuh baik di lingkungan yang optimal.

Banyaknya sel otak, menurut peneliti, disebabkan bayi tikus memperoleh perhatian dan kestabilan dalam hidupnya. Sehingga, pada tahun pertama bayi tikus tidak perlu menderita tekanan emosional karena minimnya perhatian yang diperoleh.

Rangsang ini berefek baik pada perkembangan otak. Pada tikus jantan, sel-sel pada daerah area kelabu (grey matter) lebih banyak berkembang, sedangkan pada tikus betina sel-sel pada area putih (white matter) mendapat porsi lebih. Efeknya tikus jantan memiliki ingatan dan fungsi belajar yang lebih baik. Sedangkan tikus betina memiliki koordinasi motorik dan kemampuan sosial lebih baik.

Sekalipun dilakukan pada tikus, peneliti mengaku yakin hasil penelitian berlaku sama pada manusia. Hal ini dikarenakan kondisi lingkungan dan pola asuh disesuaikan mirip dunia manusia.  Peneliti juga yakin fase tahun pertama kehidupan tikus dan manusia tidak jauh berbeda.



dari kompas.com

Menjalin Kedekatan dengan Anak Meski Sibuk Bekerja



Setiap orang tua tentu ingin selalu bersama dengan buah hatinya. Tetapi bagi para ibu bekerja di luar rumah hal itu tak bisa dipenuhi. Menyewa tenaga pengasuh anak adalah solusi alternatif untuk mengurus si kecil. Meski waktu yang Anda miliki terbatas saat di rumah, Anda tetap bisa menjalin kedekatan dengan anak agar ia tak terlalu "lengket" dengan pengasuhnya.

Menurut Rini Hildayani, psikolog Anak dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, secara alamiah anak akan lebih mengenali orang yang berinteraksi lebih baik dengannya. Kedekatan dengan anak ini disebut dengan istilah attachment.

Rini memaparkan, pada usia baru lahir hingga 6 minggu merupakan fase preattachment yaitu anak belum dapat mengetahui siapa orang yang dekat dengannya. Usia 6 minggu hingga 6 atau 8 bulan merupakan fase attachment in the making yaitu anak sudah mulai dapat membedakan orang yang dekat dengannya.

Sedangkan usia 6 atau 8 bulan hingga 18 atau 24 bulan merupakan fase clear-cut attachment yaitu dimana anak sudah dapat membedakan dengan jelas orang yang dekat dengannya. Dan usia 18 atau 24 bulan ke atas, fase formation of reciprocal relationship, anak sudah dapat memberikan aksi timbal balik dari kedekatannya dengan seseorang.

Kesibukan seringkali menjadi halangan untuk bisa dekat dengan anak Anda. Namun untuk dapat menjadi orang yang dekat dengan anak, Anda perlu menyiasati waktu pertemuan Anda yang singkat dengannya secara optimal.

"Meskipun secara kuantitas pertemuan Anda dengan anak sedikit, namun jika kualitasnya baik, anak Anda akan merasa dekat dengan Anda," tutur Rini.

Lalu bagaimana cara mendekatkan diri dengan anak meski jarang bertemu? Simak kiat dari Rini berikut ini.

1. Sediakan waktu selama mungkin untuk dihabiskan dengan si kecil. Jika Anda harus bekerja dari pagi hingga malam, pastikan setidaknya Anda memberikan setengah jam untuk bermain dengannya.

2. Jangan sibuk dengan yang lain saat bersamanya. Secara fisik dekatnya saja tidak cukup untuk membuat Anda benar-benar menciptakan kedekatan dengan anak. Upayakan untuk benar-benar fokus pada si kecil dan tinggalkan urusan di luar itu.

3. Optimalkan untuk bermain. Permainan-permainan kecil seperti bernyanyi bersama, atau merespon kata-katanya akan semakin mendekatkan Anda dengan si buah hati.

4. Hargai dia. Ingat, anak Anda bukan barang. Saat akan menggendongnya, mengganti popoknya, atau memberinya makan, pastikan Anda mengajaknya bicara dan meminta "izin" padanya saat akan melakukannya. Selain mengajari kata-kata baru padanya, ini juga akan membantu menciptakan kedekatan.



diambil dari kompas.com

30 April 2013

Penentu Kecerdasan Anak

Setiap orang tua tentu ingin mempunyai anak yang cerdas dan sehat. Memberikan gizi yang optimal adalah salah satu caranya. Namun sebenarnya apa saja faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak? 

Ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Saptawati Bardosono menuturkan, ada banyak faktor yang mempengaruhi kecerdasan seorang anak termasuk di antaranya gizi.  "Bukan rahasia lagi, gizi yang baik adalah kunci kecerdasan bagi anak. Namun itu bukan satu-satunya," ungkapnya di sela-sela acara Dancow Parenting Centre Kamis (31/1/2013) di Jakarta. 

Secara umum, lanjutnya, ada dua faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak secara umum yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor genetika, sedangkan faktor eksternal yang merupakan lingkungan, meliputi nutrisi, stimulasi, aktivitas fisik, dan upaya penjagaan kesehatan.  

"Itulah mengapa ada anak yang mungkin gizinya kurang baik namun tetap cerdas," kata dokter dengan sapaan akrab Tati ini. 

Ia menjelaskan, meskipun dua faktor tersebut sama-sama berpengaruh, namun faktor internal yaitu faktor genetik memiliki kontribusi yang relatif kecil yaitu hanya sekitar 5 persen. Sedangkan faktor eksternallah yang berperan besar yaitu sekitar 95 persen. 

"Jadi bukannya mustahil kalau orang tuanya kurang cerdas, namun anaknya bisa cerdas," ungkapnya. 

Menyoal ungkapan, "jika ingin anaknya cerdas, ibunya juga harus cerdas", Saptawati mengatakan hal itu ada benarnya. Sebab, pada tubuh seorang ibu-lah anak "dititipkan" saat dalam kandungan. Namun, bukan berarti ayah tidak berperan dalam membentuk kecerdasan bayi. "Ibu dapat membuat anaknya sehat dan cerdas pun tidak terlepas dari peran ayah yang menjaga istrinya saat mengandung. Dan tentu saja merawat anak saat anak sudah lahir," jelasnya. 

Kecerdasan anak, kata Saptawati, juga sangat bergantung pada 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu sejak masa dalam kandungan hingga usia balita. Maka dari itu, untuk membentuk anak yang cerdas, perlu adanya suatu persiapanan dari orang tua sejak awal merencanakan kehamilan, pungkasnya.

Pencernaan Sehat Pengaruhi Kecerdasan Anak

Pencernaan yang sehat bukan hanya berpengaruh terhadap kemampuan tubuh menyerap nutrisi saja, namun juga mempengaruhi pertumbuhan otak. Bahkan, ada yang mengatakan usus adalah organ kedua terpenting manusia setelah otak.
Menurut pemaparan dari dokter spesialis anak dari Divisi Tumbuh Kembang Anak Ahmad Suryawan, pencernaan mempengaruhi perkembangan fungsi otak yang dikenal dengan istilah gut-brain axis.
"Otak membutuhkan energi agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Saluran cerna tidak hanya berfungsi untuk menyerap zat gizi tetapi juga berkomunikasi dua arah dengan otak," ujarnya dalam acara peluncuran Happy Tummy Council di Jakarta (25/3/13).
Hubungan gut-brain axis, jelas dokter dengan sapaan akrab Wawan ini, tidak sesederhana otak membutuhkan nutrisi yang diserap dari sistem pencernaan, namun memiliki kaitan yang kompleks karena melibatkan tiga sistem utama tubuh yaitu sistem saraf, sistem imun, dan sistem hormon.
"Maka dengan menjaga kesehatan sistem pencernaan akan sangat mempengaruhi perkembangan fungsi otak," ungkap dokter dari Rumah Sakit dr. Soetomo ini.
Perkembangan fungsi otak, kata Wawan, memiliki periode kritis yaitu di saat sejak masih dalam kandungan hingga berusia 2 tahun. "Hingga anak berusia 2 tahun, ia sudah memiliki 80 persen otak orang dewasa," tutur Wawan.
Sedangkan dari usia 2 hingga 6 tahun, anak memiliki 95 persen otak orang dewasa. Yang artinya, hingga usia 6 tahun pun masih dikatakan saat perkembangan fungsi otak yang kritis.
Oleh karenanya, untuk mendapatkan perkembangan fungsi otak yang optimal, sistem pencernaan pun perlu sangat diperhatikan kesehatannya, terutama pada saat-saat kritis tersebut.
"Dengan memperhatikan kesehatan saluran cerna, maka anak akan memperoleh kemampuan motorik, komunikasi, kognitif, maturasi, emosi, kompetensi sosial yang baik dari perkembangan fungsi otak yang optimal," paparnya.
Selain dari menjaga kesehatan pencernaan, lanjut Wawan, dibutuhkan pula pola asuh yang baik, seperti memberikan nutrisi yang seimbang dan stimulasi yang optimal untuk memanfaatkan masa kritis perkembangan fungsi otak.