12 Januari 2010

Rahasia Fit Setiap Hari

Olahraga yang dilakukan 3-5 kali setiap minggu selama 30-60 menit sangat bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Namun, ada banyak alasan yang membuat orang tidak berolahraga. Misalnya olahraga pagi hari tidak sempat karena diburu waktu. Sore hari? Badan rasanya sudah remuk karena lelah bekerja.

Berikut ini beberapa saran singkat berolahraga yang dapat dilakukan siang hari.
  • Jalan kaki. Di kantor tidak ada tempat fitnes? Bukan alasan untuk tidak berolahraga. Anda bisa menggantinya dengan berjalan kaki selama 30 menit. Takut sinar matahari? Cobalah berjalan kaki di di dalam kantor. Dengan berjalan selama setengah jam, Anda bisa membakar 100-300 kalori, tergantung berat badan dan kecepatan jalan. Akan lebih baik bila Anda berjalan di tanjakan. Bukan hanya kalori yang dibakar, tapi bokong juga akan lebih kencang. Anda mau coba naik-turun tangga?
  • Lakukan push up. Melakukan push up, sit up, atau squats sebanyak dua set, dengan masing-masing sebanyak delapan hitungan akan membuat perut lebih kencang. Lakukan gerakan tersebut di ruangan Anda. Untuk push up, kalau terasa sulit, Anda bisa melakukan push up di dinding.
  • Naikkan intensitas. Kalau waktu Anda terbatas, naikkan intensitas latihan. Dengan begitu kalori yang terbakar akan lebih banyak. Sebagai contoh, jika Anda berjalan di treadmil dengan kecepatan enam km per jam selama 30 menit, yang terbakar 120 kalori. Namun, kalau kecepatan Anda naikkan menjadi 6,8 km per jam ditambah tiga persen kemiringan, kalori yang terbakar 185.
  • Angkat beban. Supaya otot menjadi kencang, jangan lupa melakukan angkat beban di antara jadwal rutin olahraga. Agar hasilnya maksimal, naikkan beban latihan atau gerakan dipercepat. Kalau biasanya Anda mengangkat beban lima kg dengan 15 hitungan, coba angkat 6-7,5 kg dalam 8-10 angkatan. Sebaiknya Anda mencoba dari yang teringan. Bila sudah kuat, naikkan secara bertahap.
  • Dibagi-bagi. Jika tidak bisa melakukan latihan sekaligus, tak perlu khawatir, Anda bisa menyicilnya. Misalnya lakukan 10-20 menit pada pagi dan sore hari, serta 20 menit pada siang hari
Diambil dari kompas.com

Bersyukur Membuat Bahagia

Kebahagiaan itu seperti menurunkan berat badan. Anda perlu kerja keras untuk mendapatkannya. Dan cara tercepat untuk mencapai sasaran adalah dengan membuat perilaku yang benar-benar pas dengan Anda.

Buat keterkaitan
Hubungkan strategi kebahagiaan, seperti merasa berterima kasih atau merasa beruntung, dengan isyarat lingkungan. Seperti orang Jawa yang selalu merasa beruntung. Saat terjadi situasi buruk, dengan cepat pikirkan hal-hal yang patut Anda syukuri. Contohnya, saat ada keluarga yang sakit, untung tidak sampai meninggal. Kalau meninggal, untung tidak lama menderita.

Ulangi dan praktikkan
Selalu tekankan pada diri sendiri strategi kebahagiaan yang tepat bagi Anda secara berulang-ulang, hingga menjadi kebiasaan dan otomatis dikerjakan dengan sendirinya. Bila Anda bahagia kalau memberi kaum papa, lakukan itu.

Ganti saja
Jika strategi yang dapat memperkuat kebahagiaan tidak berhasil dilakukan, ganti dengan strategi lain yang berhasil bagi Anda.

Hindari pikiran negatif
Hindari kebiasaan negatif seperti terlalu memikirkan sesuatu secara berlebihan atau membuat perbandingan yang membuat Anda merasa lebih buruk ketimbang orang lain. Ubah dengan kebiasaan yang membahagiakan, yang sudah dialami selama ini.

diambil dari kompas.com

Merenungi Pembelajaran Tahun 2009

Bagaimana kita sebagai individu dan warga bangsa merenungi hidup pada tahun 2009? Bagaimana penghayatan dominan kita menyongsong tahun 2010?

Esensi pandangan tokoh-tokoh klasik Psikologi semoga masih relevan untuk membantu kita memahami diri. Di tingkat personal, kita masing-masing mempunyai persoalan: gagal dalam hubungan cinta, berkonflik di tempat kerja, dilecehkan, menghayati konflik pribadi, terjebak dalam ketakutan, tak kunjung menemukan pekerjaan, dan sebagainya.

Persoalan terdalam psikologi manusia pada akhirnya lebih terkait dengan penghayatan keberdayaan vs ketidakberdayaan. Konsep yang digunakan dapat berbeda-beda, Alfred Adler yakin manusia rentan menghayati inferioritas. Karen Horney bilang pengalaman sejak dini dapat membuat kita menghayati kecemasan dasar yang terus terbawa hingga dewasa.

Ketidakberdayaan akan dimaknai dan direspons secara berbeda-beda. Cara kita mengatasi persoalan sesungguhnya merupakan upaya untuk mengatasi rasa tak berdaya demi memperoleh (kembali) kekuatan diri.

Bila kita seolah selalu tersandung atau menghayati tema-tema utama persoalan

serupa, dan cenderung melakukan kesalahan sama dalam menyelesaikan masalah, kita perlu serius mempelajari diri sendiri. Apakah kita menampilkan pola respons yang sama yang tidak konstruktif? Rendah diri dan cari kompensasi dengan sok kuasa dan sok pamer?

Apakah kita malu dengan kondisi ekonomi yang terbatas dan malah berutang sehingga dikejar debt collector? Takut disakiti sehingga menghindar dari hubungan? Terluka lalu terjebak dalam promiskuitas seksual? Kecewa pada diri sendiri, lalu mengatasi dengan menghina orang lain dan pasangan? Selalu merasa menjadi korban paling menderita dan ingin menghukum orang lain dengan membunuh diri saja?

Kebermanfaatan sosial

Rasa tak berdaya sering diatasi dengan sikap kaku dan cara-cara yang berpusat pada diri yang sebenarnya tidak secara mendasar menyelesaikan masalah. Rasa takut mungkin membuat kita bertahan dalam hubungan menyakitkan atau sebaliknya malah selalu ingin menguasai orang. Kegamangan kita respons dengan menilai tinggi prestasi dan capaian materi, tampil ramah tetapi pilih-pilih teman dan sesungguhnya hanya untuk tujuan instrumental memperoleh keuntungan diri.

Cara-cara egoistik akhirnya menjadi ”neurotik”, memantapkan kebutuhan berlebihan yang tetap tak pernah sepenuhnya terpuaskan, malah menyisakan kekosongan. Adler mengatakan bahwa pada akhirnya, upaya menggapai superioritas secara bermakna adalah yang mengarah pada kebermanfaatan kita secara sosial. Melihat diri menjadi bagian dari konteks masyarakat yang lebih besar dan ikut melakukan sesuatu yang positif bagi komunitas. Erich Fromm menggunakan konsep ”manusia berorientasi produktif”.

Teori Abraham Maslow mengenai hierarki kebutuhan dan motivasi juga menjelaskan bahwa aktualisasi diri sebenarnya tidak bersifat egoistik, melainkan terarah pada keluasan dan kepenuhan hidup dalam dunia yang dihuni bersama. Untuk yang terlalu muak dengan diri sendiri, yakinlah bahwa kita punya banyak sekali sisi positif dan potensi yang dapat kita gali dan bagi untuk membahagiakan diri dan orang lain.

Produk masyarakat

Psikologi sering terkesan terlalu mikro, cuma sibuk dengan masalah individu yang dilepas dari konteksnya. Padahal, terkait ketidakberdayaan, di tingkat makro kita juga punya persoalan bersama. Fromm menyatakan bahwa kondisi masyarakat sangat berpengaruh terhadap karakteristik dan penghayatan psikologi individu dan kelompok-kelompok individu anggota masyarakat tersebut.

Berita-berita utama pada paruh akhir 2009 (semisal kasus Prita Mulyasari,

pertarungan ”Cicak-Buaya”, dan kasus Century) menjelaskan tema dominan kehidupan berbangsa. Tanpa ikut dalam hiruk pikuk evaluasi siapa benar atau salah, teramati jelas betapa tema penghayatan utama kita adalah kekecewaan, ketidakpercayaan pada hukum dan penguasa, kemuakan, kemarahan, dan mungkin pada sebagian orang, keputusasaan dan fatalisme.

Banyaknya cerita mengenai penyelewengan kekuasaan dan penindasan pada yang rentan menyebabkan masyarakat marah dan merasa tak berdaya. Bagaimana umumnya kita membangun kembali rasa berdaya? Mungkin dengan memilih sibuk dengan urusan diri sendiri, tak peduli orang lain, dan apabila memungkinkan, ikut memanfaatkan situasi.

Respons psikologis masyarakat yang tampil dominan besar akhir-akhir ini adalah dengan membangun generalisasi, pandangan hitam-putih dan ”sosok pahlawan” atau ”sosok sakral”. Cara ini adalah respons psikologis sangat manusiawi dan dapat menjadi kekuatan besar publik meski dalam realitasnya belum tentu benar atau berdampak konstruktif. Bila tidak hati-hati, cara pandang hitam-putih hanya menjebak kita masuk dalam persoalan-persoalan baru. Penguasa menjaga amanah adalah hal terpenting karena membangun kembali kepercayaan publik merupakan pekerjaan sulit.

Harapan

Kekuatan individu pasti terbatas. Tetapi, dalam berbangsa kita melihat gerakan-gerakan masyarakat yang sangat positif dan menghadirkan kesejukan. Ada gerakan damai melawan korupsi atau pengumpulan koin dukungan bagi Prita. Pada akhirnya, di tingkat pribadi ataupun dalam konteks makro semoga harapan tetap ada.

Sejauh kita terus membuka diri dan merawat nurani, pada akhirnya manusia adalah makhluk spiritual yang yakin akan Kekuatan Maha Besar yang akan membimbing langkah kita menuju kebaikan. Selamat menyongsong Tahun Baru 2010...!

Kristi Poerwandari, Psikolog



6 Side Job untuk yang Hobi Menulis

Butuh tambahan pendapatan karena gaji Anda tak juga bergerak naik? Atau mulai jenuh dengan rutinitas kerja yang 9-to-5? Jika kegelisahan ini mulai hadir dalam kehidupan karir Anda, mungkin ini saatnya untuk mencari pekerjaan sambilan yang memungkinkan untuk Anda lakukan sambil melanjutkan pekerjaan tetap Anda.

Menurut buku 55 Surefire Home Based Businesses You Can Start for Under $5,000, ada banyak peluang usaha bagi yang ingin bekerja dari rumah. Dari 55 peluang bisnis tersebut, jasa penulisan ada di urutan kesebelas. Anda bisa mengerjakan dari rumah, tanpa harus meninggalkan karir Anda yang masih ingin dipertahankan. Jika pun Anda memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan sebelumnya, dan menjadi pekerja dari rumah, tak perlu khawatir penghasilan akan menurun. Asalkan, Anda dapat memastikan jaringan sudah cukup luas dan bisa menjalin hubungan kerja dengan rekanan untuk rutin mendapatkan proyek tulisan.

Lalu apa saja profesi di bidang penulisan yang bisa dikerjakan dari rumah?
1. Copyediting
Editor banyak dibutuhkan oleh penerbit, media, atau perusahaan yang memiliki divisi penerbitan internal. Kebutuhan editor sebagai freelance pun semakin terbuka lebar. Cukup membawa bahan tulisan yang harus diedit ke rumah, lalu tentukan tenggat waktu yang disepakati bersama, dan Anda pun bebas mengatur waktu kerja asalkan memenuhi target.
2. Ghost writing
Banyak profesional yang punya ilmu khusus, tapi tak memiliki kemampuan menulis. Maka ia membutuhkan seorang penulis buku untuk menuangkan isi pikirannya ke dalam tulisan. Namun penulis buku ini tak dapat mencantumkan namanya sebagai penulis buku tersebut, karena ide dan konsep buku adalah milik profesional yang memiliki proyek tersebut. Nah, penulis buku inilah yang disebut ghost writer.
Tugas Anda termasuk melakukan riset, wawancara, dan menulis sesuai pesanan si pengarang yang namanya tercantum di buku. Memang tidak bisa membuat Anda populer, tetapi baik untuk menjaga relasi dan mengasah skill menulis. Selain itu, anggap saja pekerjaan ini untuk menambah portofolio.

3. Copywriting
Disebut juga sebagai penulisan bisnis. Bentuknya bisa berupa penulisan laporan tahunan pada sebuah perusahaan, atau penulisan untuk promosi produk dan jasa. Tim kreatif dari advertising agency juga mempekerjakan seorang copywriter untuk membuat iklan yang menarik. Meski semua pekerjaan menulis menuntut kreativitas, untuk yang satu ini butuh keahlian khusus.

4. Book writing
Penulisan yang satu ini bisa berasal dari ide dan atau keahlian Anda sendiri, artinya Anda menjual ide ke penerbit. Atau menerima pesanan dari penerbit seperti buku bisnis, interior, keuangan, dan sebagainya. Jadi tak melulu harus memiliki skill khusus secara profesional. Anda bisa mewawancarai profesional untuk kemudian menjadikannya tulisan dalam bentuk media buku.

5. Menulis artikel untuk majalah
Mirip seperti sebelumnya, hanya saja medianya berbeda, yakni majalah. Biasanya editor majalah akan menugaskan apa yang harus Anda tulis, sesuai tema yang ingin disajikan setiap periodenya. Jika Anda punya stok tulisan menarik seperti cerpen atau juga catatan perjalanan, Anda juga bisa menawarkannya pada media. Jika berjodoh, Anda bisa rutin berkontribusi, kan?

6. Web page content provider
Penulis konten website pun butuh skill khusus dalam menulis. Anda bisa menghasilkan uang dari sini. Apalagi media elektronik sudah menjadi pilihan yang menguntungkan di saat kondisi percetakan makin tergusur karena harga kertas yang mahal. Selama internet hidup, selama itulah pekerjaan ini terbuka luas.

Trik Mengasah dan Mempertajam Intuisi Bisnis

Keinginan sudah sangat menggebu untuk membuka peluang usaha baru, namun Anda masih ragu untuk segera memulainya. Atau, niat berbisnis masih jalan di tempat, lantaran Anda masih bingung bagaimana menangkap peluang dan menarik sebanyak mungkin pelanggan atas barang atau jasa yang Anda tawarkan.

Suryono Ekotama, direktur Smartpreneur Business Club, dalam bukunya Berbisnis dengan Otak Kanan, menjelaskan, banyak cara untuk memulai bisnis. Cara yang Anda pilih bukan sekadar untuk memulai, tetapi juga untuk menajamkan intuisi dalam berbisnis, sehingga Anda dapat mengembangkan usaha menjadi lebih besar lagi.

Dengan beragam pilihan sarana yang ada, Anda bisa mengasah bakat wirausaha dengan cara berikut:

1. Membaca buku-buku bisnis
Buku bisnis praktis yang ada sekarang ini ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti, dan dilengkapi dengan bonus CD jika Anda ingin mendengar versi audionya. Bidang usaha yang ditawarkan pun banyak macamnya. Pilihlah buku dengan bidang yang sesuai pilihan Anda, lalu pelajari tip-tip praktis yang disediakan.

2. Mengikuti diskusi, talk show, atau seminar bisnis
Mulailah mencari jadwal diskusi, talk show, atau seminar bisnis, dimana saja. Dari berbagai tema seminar yang diadakan, Anda bisa mengikuti perkembangan tren bisnis saat ini. Seminar semacam ini biasanya juga dihadiri para pemula di bidang bisnis. Anda bisa mengetahui apa saja problem yang mereka hadapi saat terjadi tanya-jawab.

Banyak hal lain yang menguntungkan bisa Anda peroleh dari mengikuti seminar, di antaranya:
* Mendapat ilmu seputar bisnis.
* Menambah pengalaman, setidaknya dari pengalaman narasumber, bagaimana menjalankan bisnisnya.
* Mendapatkan ide dan inspirasi yang bisa memompa semangat.
* Menambah banyak kenalan, sehingga membuka peluang untuk menjadi partner bisnis.
* Mengenalkan usaha Anda, dengan berbagi kartu nama dan presentasi singkat tentang karakter bisnis Anda.
* Konsultasi gratis dengan berbagai pihak yang lebih berpengalaman dalam berbisnis.

3. Mencari mentor
Keteladanan menjadi kebutuhan yang juga penting. Dengan adanya role model Anda bisa menemukan semangat, ilmu, serta pengalamannya bertahan. Cara mendapatkan mentor adalah dengan membuka pergaulan seluas-luasnya. Di antaranya dengan mengikuti berbagai kesempatan diskusi, talk show, atau seminar.
Menjalin hubungan baik juga penting. Dengan kedekatan tersebut Anda bisa dengan mudah untuk meminta waktu berbincang seputar dunia usaha. Karena biasanya, pebisnis sukses sangat terbatas waktunya. Suatu keberhasilan jika Anda bisa berbagi ilmu, dan membuka peluang hubungan bisnis baru (business to business).

4. Terjun langsung
Setelah belajar, mempersenjatai diri dengan pengetahuan bisnis, kini saatnya memulai. Modal nekad memang bisa menjadi pemicu. Tentu saja sertai perhitungan yang matang berdasarkan ilmu yang telah Anda serap sebelumnya, ditambah modal usaha, persiapan, dan relasi yang cukup luas. Berhasil membuka usaha dan terus belajar adalah perjalanan sepanjang hidup untuk menyempurnakan bisnis.

5. Mengikuti training atau pelatihan bisnis
Tidak berbeda jauh dengan kegiatan sebelumnya seperti seminar, pelatihan juga punya kontribusi besar untuk kemajuan bisnis Anda. Melalui pelatihan, Anda bisa mendapatkan ilmu bisnis praktis dengan waktu lebih banyak. Memang, Anda harus membayar cukup mahal untuk mendapatkan ilmu tersebut. Namun, anggaplah biaya training sebagai investasi awal untuk memancing lebih banyak lagi materi dari bisnis yang akan Anda kembangkan nantinya.


Diambil dari Kompas.com

Agar 24 Jam Lebih Efektif

Kemampuan untuk membuat dan menjaga jadwal yang efisien dan efektif akan baik untuk produktivitas Anda, sekaligus akan menunjukkan bahwa Anda adalah tipe profesional yang bisa diandalkan, bertanggungjawab, dan bisa dipercaya. Hal-hal tersebut akan membawa Anda menjadi orang yang diperhitungkan dalam segala jalan karier Anda.
Saat membuat jadwal (scheduling), alat-alat pendukung tertentu, seperti PDA, komputer, ponsel pintar, atau sekadar buku agenda, tak terelakkan. Namun, tak akan ada gunanya pula jika Anda tak mengerti cara menggunakannya. Karenanya, sangat disarankan agar Anda mulai menggunakan alat-alat yang sebenarnya bisa membantu Anda menyusun jadwal tersebut. Terlepas dari alat-alat bantu tersebut, yang lebih penting adalah cara Anda menyusun jadwalnya, berikut tips yang bisa Anda lakukan untuk menyusun jadwal efektif:
Siapkan dan jelaskan tujuan Anda
Pastikan apa target Anda. Misalnya, untuk menghadapi rapat, siapkan dan catat apa saja yang ingin Anda gali dari rapat itu, termasuk pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin Anda tanyakan di sana. Dengan melakukan hal ini sebelum rapat, maka Anda akan memiliki perkiraan waktu untuk menjadwalkan hal-hal lain setelah dan sebelum rapat. Saat Anda tiba di ruang rapat, sebelum memulainya, utarakan maksud dan tujuan Anda agar jelas arah jalan rapat tersebut dan tepat sasaran.
Selalu tepat waktu
Disadari atau tidak, namun kebiasaan jam "karet" sudah sangat melekat dengan kebanyakan masyarakat kita. Kebanyakan artinya bukan berarti seluruh masyarakat kita, dan selain itu sebenarnya masih bisa diubah jika Anda mau. Kebiasaan untuk tepat waktu sangat erat hubungannya dengan profesionalitas seseorang. Dalam hal ini, bukan berarti hanya datang tepat waktu saat berjanji untuk bertemu, tapi juga dalam hal tanggung jawab. Kemampuan untuk mengatur ketepatan waktu menunjukkan bahwa Anda mampu mengontrol jadwal Anda yang padat. Menunjukkan pula bahwa Anda menghormati waktu dan memperhatikan kepentingan dan keperluan orang lain, sehingga Anda mengharapkan sebaliknya dari yang bersangkutan. Jika Anda tahu bahwa jalanan Jakarta sudah tidak bisa lagi diperkirakan "jadwal" kemacetannya, ada baiknya Anda selalu berangkat lebih awal dari perkiraan.
Realistis
Waktu merupakan faktor utama dalam hal ini. Maka melakukan perkiraan tak realistis akan suatu jadwal, seperti menyisipkan rapat dengan divisi penjualan di tengah-tengah waktu Anda melakukan presentasi, amat tidak efektif. Anda harus bisa meluangkan waktu sejenak untuk memperkirakan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Jika jadwal terlalu padat, dan ada satu yang berlangsung lebih lama dari perkiraan, maka jadwal sisanya akan ikut mundur. Cobalah untuk mengatur jadwal secara realistis, bukan secara ideal. Buat estimasi waktu, lalu tambahkan waktu 10-20 persen waktu untuk perjalanan, atau rapat yang berlangsung lebih lama dari perkiraan, dan lainnya.
Konfirmasi ulang
Pertemuan atau jadwal yang melibatkan orang lain memang tidak terlalu bisa Anda kontrol. Siapa tahu orang yang Anda ajak bertemu tersebut tiba-tiba repot atau mendadak batal. Maka, daripada waktu Anda terbuang percuma karena datang ke tempat perjanjian tapi batal, akan lebih bermanfaat jika Anda mengirimkan konfirmasi terlebih dulu. Entah itu dengan mengirimkan e-mail atau dengan menelepon orang tersebut.
Tera ulang
Dalam bukunya, How to Organize (Just About) Everything, Peter Walsh menawarkan saran, "Tinjau ulang seberapa banyak jadwal yang sudah berhasil Anda laksanakan, khususnya yang berkaitan dengan janji. Jika jumlahnya lebih dari 50 persen, evaluasikan apakah agenda orang lain bisa mengganggu jadwal Anda." Ketika Anda terlalu sering bertemu dengan orang, Anda tak selalu bisa mengontrol keadaan. Anda juga tak bisa memperkirakan kapan bisa bekerja sendiri, dan tanpa gangguan dari orang lain. Entah itu di pagi hari atau di sore hari. Jadwal tersebut harus diketahui dengan pasti.
Ambil alih
Sebagai seorang individu, Anda memiliki "klien-klien" yang tak hanya di bidang bisnis. Anda juga harus mampu menyisihkan waktu untuk keluarga, pasangan, teman-teman, dan lainnya. Karenanya kadang waktu 24 jam terasa kurang. Tetapi kadang, ketika Anda sedang rapat dengan kolega atau atasan, obrolannya melebar ke hal-hal yang lain, waktu pun terbuang percuma. Ketika ini terjadi, cobalah dengan sopan minta undur diri, jelaskan alasan bahwa Anda sudah ada rencana lain. Potong obrolan yang tak terlalu penting untuk urusan pekerjaan, untuk sama-sama menggunakan waktu yang tersisa dengan kegiatan lain yang bermanfaat.
Menyusun jadwal yang efektif bisa membantu Anda untuk memanfaatkan waktu 24 jam dalam sehari lebih maksimal, dan lebih produktif. Ketika Anda menemukan ada hari-hari yang terasa lebih cepat dari biasanya, atau ada yang berjalan lebih lambat dari biasanya, maka sudah bisa dipastikan Anda membutuhkan penjadwalan yang lebih efektif.
Diambil dari KOMPAS.com

8 Resolusi Keuangan untuk Tahun Baru


Saat membuat resolusi tahun baru, hal-hal yang ada dalam daftar kita biasanya: mulai berolahraga, mulai diet, atau membeli mobil. Lalu, kapan giliran meresolusi kesehatan keuangan kita? Bukankah keuangan juga sama pentingnya dengan kesehatan? Sehat, tetapi rekening di bank kosong, tidak enak juga kan?

Untuk mulai menjalani gaya hidup yang lebih hemat (dan pangkal kaya), coba ikuti resolusi keuangan tahun baru berikut ini:

1. Tidak berbelanja berlebihan
Membawa kartu kredit memang ringkas, tetapi kemudahan menggunakannya juga membuat Anda akan terlalu banyak menghabiskan uang. Bila Anda memang tak berniat berbelanja, maka simpan kartu kredit Anda di rumah. Selain itu, jangan tergoda dengan sistem belanja online yang menggunakan kartu kredit. Batasi saja, misalnya, untuk membeli tiket pesawat atau membayar voucer hotel.

2. Menaati budget
Anda perlu tahu apa yang paling sering Anda beli dengan uang Anda. Apakah fine dining bersama keluarga di akhir pekan? Ataukah pakaian, sepatu, dan tas? Ataukah traveling setiap ada libur panjang di akhri minggu? Jika sudah tahu, maka akan lebih mudah bagi Anda untuk membatasi pengeluaran dalam hal tersebut. Misalnya, traveling hanya boleh 4 kali dalam setahun. Jadwalkan hal ini di kalender setidaknya setiap bulan untuk mengevaluasi budget, membayar tagihan, dan memeriksa apakah ada pos-pos yang bisa dikurangi pengeluarannya.

3. Membayar utang
Banyak cara untuk menyelesaikan utang. Salah satunya adalah dengan membayar utang dengan bunga yang tertinggi lebih dulu, setelah itu barulah yang lebih ringan. Bila Anda memang mampu, maka sebaiknya tidak hanya membayar minimum payment karena hal ini hanya akan membuat utang Anda lebih lama terselesaikan.

4. Menabung lebih dulu
Anda perlu menyisihkan uang untuk ditabung, bukan menabung apa yang tersisa. Anda bisa membuka rekening baru yang dibuat khusus untuk menyimpan uang tabungan. Jika Anda harus membayar asuransi dengan premi tahunan, maka sisihkan juga sejumlah yang harus dibayarkan agar Anda tak kelimpungan saat harus membayar nanti.

5. Simpan lebih banyak
Setiap tahun, gaji Anda pasti naik. Karena itu, simpan juga lebih banyak. Selain dengan menyisihkan sejumlah kenaikan gaji tersebut, kurangi juga beberapa pengeluaran lain yang tidak perlu. Misalnya, berlangganan majalah (padahal Anda tak pernah sempat membacanya sampai habis).

6. Siapkan tabungan pensiun
Rasanya masih lama sekali, ya, tapi menabung untuk masa pensiun adalah tindakan bijaksana. Anda bisa memilih sistem direct deposit yang akan menyisihkan gaji yang masuk langsung ke rekening yang Anda pilih, atau memilih produk asuransi dengan fasilitas untuk menabung atau investasi.

7. Pilih asuransi yang tepat
Sebagai contoh, jika Anda mempunyai anak, maka asuransi pendidikan bisa menjadi pilihan. Jika perusahaan tempat Anda bekerja tidak menyediakan fasilitas penggantian uang dokter yang menguntungkan, maka Anda bisa membuat asuransi kesehatan. Tentu, Anda harus menyimak dengan baik setiap pasal yang ada dalam dokumen asuransi tersebut supaya tidak kecewa belakangan.

8. Lindungi identitas Anda
Apa hubungannya dengan masalah keuangan Anda? Yang jelas, jangan biarkan Anda menjadi korban pencurian identitas. Jangan sembarangan memberikan nomor kartu kredit saat akan berbelanja online. Pastikan situs belanja tersebut memang tepercaya. Hati-hatilah saat menyerahkan kartu kredit atau kartu ATM kepada petugas di tempat-tempat Anda menggunakannya. Awasi juga setiap pengeluaran kartu kredit atau rekening Anda setiap bulan untuk memastikan bahwa saldonya tidak berkurang tanpa sepengetahuan Anda.

diambil dari koran kompas.com

18 November 2009

Belajar Dari Jepang

Komunitas Terdidik: Belajar dari Jepang

akihabara.jpg
bus.jpgDari mengamati perilaku kehidupan masyarakat Jepang, sebenarnya tergambar bagaimana sebuah komunitas terdidik terlahir dari suatu sifat dan sikap yang sederhana. Yang pertama mari kita lihat bagaimana orang Jepang mengedepankan rasa “malu”. Fenomena “malu” yang telah mendarah daging dalam sikap dan budaya masyarakat Jepang ternyata membawa implikasi yang sangat luas dalam berbagai bidang kehidupan. Di Jepang sebenarnya banyak hal baik lain terbentuk dari sikap malu ini, termasuk didalamnya masalah penghormatan terhadap HAM, masalah law enforcement, masalah kebersihan moral aparat, dsb.
eki.jpgBagaimana masyarakat Jepang bersikap terhadap peraturan lalu lintas adalah suatu contoh nyata. Orang Jepang lebih senang memilih memakai jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan raya. Bagaimana taatnya mereka untuk menunggu lampu traffic light menjadi hijau, meskipun di jalan itu sudah tidak ada kendaraan yang lewat lagi. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
densha.jpgHal menarik berikutnya adalah bagaimana orang Jepang berprinsip sangat “ekonomis” dalam masalah perbelanjaan rumah tangga. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. misal adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 10 atau 20 yen. Juga bagaimana orang Jepang lebih memilih naik densha (kereta listrik) swasta daripada densha milik negeri, karena untuk daerah Tokyo dan sekitarnya ternyata densha swasta lebih murah daripada milik negeri. Dan masih banyak lagi contoh yang sangat menakjubkan dan membuktikan bahwa orang Jepang itu sangat ekonomis.
Secara perekonomian mereka bukan bangsa yang miskin karena boleh dikata sekarang memiliki peringkat GDP yang sangat tinggi di dunia. Mereka juga bukan bangsa yang tidak sibuk atau lebih punya waktu berhidup ekonomis, karena mereka bekerja dengan sangat giat bahkan terkenal dengan bangsa yang gila kerja (workaholic). Tetapi hebatnya mereka tetap memegang prinsip hidup ekonomis. Ini sangat bertolak belakang dengan masyarakat negara-negara berkembang (baca: Indonesia) yang bersifat sangat konsumtif. Terus terang kita memang sangat malas untuk bersifat ekonomis. Baru dapat uang sedikit saja sudah siap-siap pergi ke singapore untuk shopping, atau beli telepon genggam baru.
imigrasi.jpgSifat berikutnya adalah masalah “sopan santun dan menghormati orang lain”. Masyarakat Jepang sangat terlatih refleksnya untuk mengatakan gomennasai (maaf) dalam setiap kondisi yang tidak mengenakkan orang lain. Kalau kita berjalan tergesa-gesa dan menabrak orang Jepang, sebelum kita sempat mengatakan maaf, orang Jepang dengan cepat akan mengatakan maaf kepada kita. Demikian juga apabila kita bertabrakan sepeda dengan mereka. Tidak peduli siapa yang sebenarnya pada pihak yang salah, mereka akan secara refleks mengucapkan gomennasai (maaf).
Kalau moral dan sifat-sifat sederhana dari orang Jepang, seperti malu, hidup ekonomis, menghormati orang lain sudah sangat jauh melebihi kita, ditambah dengan majunya perekonomian dan sistem kehidupan. Sekarang marilah kita bertanya kepada diri kita, hal baik apa yang kira-kira bisa kita banggakan sebagai bangsa Indonesia kepada mereka ?
Bangsa Indonesia bukan bangsa yang bodoh dan tidak mengerti moral. Kita bisa menyaksikan bahwa mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar Jepang, Jerman, Amerika dan di negara -negara lain, banyak sekali yang berprestasi dan tidak kalah secara ilmu dan kepintaran. Demikian juga kalau kita bandingkan bagaimana para pengamat dan komentator Indonesia menguraiakan analisanya di televisi Indonesia.
Akan tetapi sangat disayangkan bahwa fakta menunjukkan, secara politik dan sistem pemerintahan kita tidak lebih stabil daripada Jepang, secara ekonomi kita jauh dibawah Jepang. Dalam masalah sepakbola juga dalam waktu singkat Jepang sudah berprestasi menembus 16 besar pada piala dunia tahun 2002 ini, sementara kita sendiri masih berputar-putar dengan permasalahan yang tidak mutu, dari masalah wasit, pemain sampai kisruhnya suporter.
Mengambil pelajaran dari kasus yang telah diuraikan penulis diatas. Ternyata kepintaran dan kepandaian otak kita adalah tidak cukup untuk membawa kita menuju suatu komunitas yang terdidik. Justru sikap dan prinsip hidup yang sebenarnya terlihat sederhana itulah akan secara silmultan membentuk suatu bangsa menjadi bangsa besar dan berperadaban.
Disarikan dari Tulisan Romi Satria Wahono

12 November 2009

10 Resep Sukses Bangsa Jepang

Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang.
1. KERJA KERAS
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi ;) ), membuat mahasiswa nggak enak pulang duluan. Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.
2. MALU
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
3. HIDUP HEMAT
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Mereka juga masih menggunakan pemanas ruangan menggunakan minyak tanah, padahal sudah cukup dengan AC yang ada mode dingin dan panas. Alasannya ternyata satu, minyak tanah lebih murah daripada listrik. Professor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.
4. LOYALITAS
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan. Kota Hofu mungkin sebuah contoh nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun.
5. INOVASI
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar. Perusahaan Matsushita Electric yang dulu terkenal dengan sebutan “maneshita” (peniru) punya legenda sendiri dengan mesin pembuat rotinya. Inovasi dan ide dari seorang engineernya bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif untuk meniru teknik pembuatan roti dari sheef di Osaka International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti (home bakery) bermerk Matsushita yang terkenal itu.
6. PANTANG MENYERAH
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita :) Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen). Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).
7. BUDAYA BACA
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. Saya biasa membeli buku literatur terjemahan bahasa Jepang karena harganya lebih murah daripada buku asli (bahasa inggris).
8. KERJASAMA KELOMPOK
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.
9. MANDIRI
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.
10. JAGA TRADISI
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena ”hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang ;) Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Mungkin seperti itu 10 resep sukses Jepang. Bangsa Indonesia punya hampir semua resep orang Jepang diatas, hanya mungkin kita belum mengasahnya dengan baik. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang. Orang Indonesia juga memenangkan berbagai award berlevel internasional. Saya yakin ada faktor “non-teknis” yang membuat Indonesia agak terpuruk dalam teknologi dan ekonomi. Mari kita bersama mencari solusi untuk berbagai permasalahan republik ini. Dan terakhir kita harus tetap mau belajar dan menerima kebaikan dari siapapun juga.
Disarikan dari Tulisan Romi Satria Wahono