Tutur Tinular adalah judul sebuah sandiwara radio yang sangat legendaris karya
S. Tidjab. Kisah ini menceritakan tentang perjalanan hidup dan pencarian jati diri seorang pendekar yang berjiwa ksatria bernama
Arya Kamandanu akan keagungan Tuhan Yang Maha Esa, suatu kisah dengan latar belakang sejarah runtuhnya
Kerajaan Singhasari dan berdirinya
Kerajaan Majapahit.
Sandiwara radio ini pertama kali mulai disiarkan pada 1 Januari 1989 dan dipancarluaskan lebih dari 512 stasiun radio di seluruh
Indonesia, yang tergabung dalam Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia
PRSSNI. Pada tahun 2002, Sandiwara radio Tutur Tinular disiarkan ulang di salah satu radio yang ada di Kota Yogyakarta, yaitu
Radio MBS FM dan 95.4 Mhz
Radio Yasika FM. Tidak hanya itu, bahkan hingga pada bulan
Januari 2012, tercatat masih ada beberapa stasiun radio yang menyiarkannya kembali seperti; 103,3 Mhz
Radio Karimata FM,
Pamekasan,
Madura[1], 95.6 FM
Radio Bintang Tenggara,
Banyuwangi[2], dan 95,2 FM
Radio Oisvira,
Sumbawa,
Radio Istana FM Bojonegoro, Jawa Timur
[3],
Radio Patria FM Blitar, Jawa Timur
[4] . Disamping itu beberapa situs online juga masih ada yang memperdengarkan sandiwara radio ini secara
live streaming, di antaranya adalah Radio Streaming
Asdisuara Jakarta, milik
Asdi Suhastra,
[5].
Tutur Tinular sendiri berasal dari
bahasa Jawa yang berarti "nasihat atau petuah yang disebarluaskan".
Download MP3 Tutur Tinular
http://adhisubay.blogspot.com/2013/02/tutur-tinular-episode-satu-01-pelangi.html
http://adhisubay.blogspot.com/2013/02/tutur-tinular-episode-dua-02-kisah-dari.html
http://adhisubay.blogspot.com/2013/03/tutur-tinular-episode-tiga-03-daun-daun_17.html
http://adhisubay.blogspot.com/2013/04/tutur-tinular-episode-empat-04-kemelut.html
http://adhisubay.blogspot.com/2013/06/tutur-tinular-episode-lima-05-perguruan.html
http://adhisubay.blogspot.com/2013/06/tutur-tinular-episode-enam-06-cahaya.html
http://adhisubay.blogspot.com/2013/06/tutur-tinular-episode-tujuh-07-mata-air.html
http://adhisubay.blogspot.com/2013/06/tutur-tinular-episode-delapan-08.html
http://adhisubay.blogspot.com/2013/06/tutur-tinular-episode-sembilan-09-badai.html
http://adhisubay.blogspot.com/2013/06/tutur-tinular-episode-sepuluh-10.html
Tutur Tinular berkisah tentang seorang pemuda Desa Kurawan bernama
Arya Kamandanu, putra
Mpu Hanggareksa, seorang ahli pembuat senjata kepercayaan
Prabu Kertanagara, raja
Kerajaan Singhasari. Pemuda lugu ini kemudian saling jatuh hati dengan seorang gadis kembang desa Manguntur bernama
Nari Ratih, putri Rakriyan Wuruh, seorang bekas kepala prajurit
Kerajaan Singasari. Namun hubungan asmara di antara mereka harus kandas karena ulah kakak kandung Kamandanu sendiri yang bernama
Arya Dwipangga.
Kepandaian dan kepiawaian Dwipangga dalam olah sastra membuat Nari
Ratih terlena dan mulai melupakan Kamandanu yang polos. Cinta segitiga
itu akhirnya berujung pada peristiwa di Candi Walandit, di mana mereka
berdua (Arya Dwipangga dan Nari Ratih) yang sedang diburu oleh api
gelora asmara saling memadu kasih hingga gadis kembang desa Manguntur
itu hamil di luar nikah.
Kegagalan asmara justru membuat Arya Kamandanu lebih serius mendalami
ilmu bela diri di bawah bimbingan saudara seperguruan ayahnya yang
bernama
Mpu Ranubhaya.
Berkat kesabaran sang paman dan bakat yang dimilikinya, Kamandanu
akhirnya menjadi pendekar muda pilih tanding yang selalu menegakkan
kebenaran dilandasi jiwa ksatria.
Kisah
Tutur Tinular ini diselingi berbagai peristiwa sejarah, antara lain kedatangan utusan
Kaisar Kubilai Khan, penguasa
Dinasti Yuan di negeri
Cina, yang meminta
Kertanagara sebagai raja di
Kerajaan Singhasari menyatakan tunduk dan mengakui kekuasaan bangsa
Mongolia. Namun utusan dari Mongolia tersebut malah diusir dan dipermalukan oleh
Kertanagara.
Sebelum para utusan kembali ke Mongolia, di sebuah kedai makan terjadilah keributan kecil antara utusan kaisar yang bernama
Meng Chi
dengan Mpu Ranubhaya, Mpu Ranubhaya berhasil mempermalukan para utusan
dan mampu menunjukkan kemahirannya dalam membuat pedang, karena
tersinggung dan ketertarikannya terhadap keahlian Mpu Ranubhaya
tersebut, kemudian dengan cara yang curang para utusan tersebut berhasil
menculik Mpu Ranubhaya dan membawanya turut serta berlayar ke Mongolia,
sesampainya di negeri Mongolia di dalam istana Kubilai Khan, Mpu
Ranubhaya menciptakan sebuah pedang pusaka bernama Nagapuspa sebagai
syarat kebebasan atas dirinya yang telah menjadi tawanan. Namun pada
akhirnya pedang Naga Puspa tersebut malah menjadi ajang konflik dan
menjadi rebutan di antara pejabat kerajaan. Akhirnya untuk menyelamatkan
pedang Naga Puspa dari tangan-tangan orang berwatak jahat, Mpu
Ranubhaya mempercayakan
Pedang Nagapuspa tersebut kepada pasangan pendekar suami-istri yang menolongnya, bernama
Lo Shi Shan dan
Mei Shin di mana keduanya kemudian menjadi pelarian, berlayar dan terdampar di
Tanah Jawa
dan hidup terlunta-lunta. Sesampainya di Tanah Jawa pasangan suami
istri ini akhirnya bertemu dengan beberapa pendekar jahat anak buah
seorang Patih Kerajaan Gelang-gelang bernama
Kebo Mundarang yang ingin menguasai Pedang Naga Puspa hingga dalam suatu pertarungan antara Lo Shi Shan dengan
Mpu Tong Bajil
(pimpinan pendekar-pendekar jahat) Lo Shi Shan terkena Ajian Segoro
Geni milik Mpu Tong Bajil, setelah kejadian pertarungan beberapa hari
lamanya Pendekar Lo Shi Shan hidup dalam kesakitan hingga akhirnya
meninggal di dunia disebuah hutan dalam Candi tua, sebelum meninggal
dunia yang kala itu sempat di tolong oleh Arya Kamandanu, Lo Shi Shan
menitipkan Mei Shin kepada Arya Kamanadu
Mei Shin yang sebatang kara kemudian ditolong Arya Kamandanu.
Kebersamaan di antara mereka akhirnya menumbuhkan perasaan saling jatuh
cinta. Namun lagi-lagi Arya Dwipangga merusak hubungan mereka, dengan
cara licik Arya Dwipangga dapat menodai perempuan asal daratan Mongolia
itu sampai akhirnya mengandung bayi perempuan yang nantinya diberi nama
Ayu Wandira. Namun demikian, meski hatinya hancur, Kamandanu tetap
berjiwa besar dan bersedia mengambil perempuan dari Mongolia itu sebagai
istrinya.
Saat itu Kerajaan Singhasari telah runtuh akibat pemberontakan
Prabu Jayakatwang, bawahan Singhasari yang memimpin
Kerajaan Gelang-Gelang. Tokoh ini kemudian membangun kembali
Kerajaan Kadiri
yang dahulu kala pernah runtuh akibat serangan pendiri Singhasari.
Dalam kesempatan itu, Arya Dwipangga yang menaruh dendam akhirnya
mengkhianati keluarganya sendiri dengan melaporkan ayahnya selaku
pengikut
Kertanagara
kepada pihak Kadiri dengan tuduhan telah melindungi Mei Shin yang waktu
itu menjadi buronan. Mpu Hanggareksa pun tewas oleh serangan para
prajurit Kadiri di bawah pimpinan Mpu Tong Bajil. Sebaliknya, Dwipangga
si anak durhaka jatuh ke dalam jurang setelah dihajar Kamandanu.
Kemudian Kamandanu kembali berpetualang untuk mencari Mei Shin yang
lolos dari maut sambil mengasuh keponakannya, bernama Panji Ketawang,
putra antara Arya Dwipangga dengan Nari Ratih.
Petualangan Kamandanu akhirnya membawa dirinya menjadi pengikut
Raden Wijaya (
Nararya Sanggrama Wijaya),
menantu Kertanagara. Tokoh sejarah ini telah mendapat pengampunan dari
Jayakatwang dan diizinkan membangun sebuah desa terpencil di hutan Tarik
bernama
Majapahit. Dalam petualangannya itu, Kamandanu juga berteman dengan seorang pendekar wanita bernama
Sakawuni, putri seorang perwira Singhasari bernama Banyak Kapuk.
Nasib Mei Shin sendiri kurang bagus. Setelah melahirkan putri Arya Dwipangga yang diberi nama
Ayu Wandira,
ia kembali diserang kelompok Mpu Tong Bajil. Beruntung ia tidak
kehilangan nyawa dan mendapatkan pertolongan seorang tabib Cina bernama
Wong Yin.
Di lain pihak, Arya Kamandanu ikut serta dalam pemberontakan
Sanggrama Wijaya demi merebut kembali takhta tanah Jawa dari tangan
Jayakatwang. Pemberontakan ini mendapat dukungan
Arya Wiraraja dari
Sumenep,
yang berhasil memanfaatkan pasukan Kerajaan Yuan yang dikirim Kubilai
Khan untuk menyerang Kertanagara. Berkat kepandaian diplomasi Wiraraja,
pasukan Mongolia itu menjadi sekutu Sanggrama Wijaya dan berbalik
menyerang Jayakatwang.
Setelah Kerajaan Kadiri runtuh, Sanggrama Wijaya berbalik menyerang dan mengusir pasukan
Mongolia
tersebut. Arya Kamandanu juga ikut serta dalam usaha ini. Setelah
pasukan Kerajaan Yuan kembali ke negerinya, Sanggrama Wijaya pun
meresmikan berdirinya
Kerajaan Majapahit. Ia bergelar
Prabu Kertarajasa Jayawardhana.
Kisah
Tutur Tinular kembali diwarnai cerita-cerita sejarah, di mana Kamanadanu turut menyaksikan pemberontakan
Ranggalawe,
Lembu Sora dan
Gajah Biru akibat hasutan tokoh licik yang bernama
Ramapati.
Di samping itu, kisah petualangan tetap menjadi menu utama, antara lain
dikisahkan bagaimana Kamandanu menumpas musuh bebuyutannya, yaitu
Mpu Tong Bajil, serta menghadapi kakak kandungnya sendiri (Arya Dwipangga) yang muncul kembali dengan kesaktian luar biasa, bergelar
Pendekar Syair Berdarah.
Kisah
Tutur Tinular berakhir dengan meninggalnya Kertarajasa
Jayawardhana, di mana Arya Kamandanu kemudian mengundurkan diri dari
Kerajaan Majapahit dengan membawa putranya yang bernama
Jambu Nada, hasil perkawinan kedua dengan Sakawuni yang meninggal setelah melahirkan, dalam perjalanan menuju lereng
Gunung Arjuna inilah Arya Kamandanu bertemu dengan
Gajah Mada
yang waktu itu menyelamatkan putranya ketika masih berumur 40 hari yang
terjatuh ke jurang karena lepas dari gendongannya akibat
terguncang-guncang diatas kuda.
Tutur Tinular kemudian berlanjut dengan sandiwara serupa berjudul
Mahkota Mayangkara.
Profil karakter
Adalah seorang pemuda lugu putera kedua Empu Hanggareksa yang sangat
suka mempelajari ilmu kanuragan. Diangkat murid oleh kakak seperguruan
ayahnya yang bernama Empu Ranubaya. Empu Ranubaya mengajarkan Kamandanu
jurus Nagapuspa, yaitu ilmu kanuragan ciptaan Empu Gandring dan Aji
Saipi Angin, yaitu ilmu meringankan tubuh yang bisa membuat tubuh
seringan kapas. Sayang, ketika Arya Kamandanu sedang giat belajar, Empu
Ranubaya dikejar-kejar oleh prajurit Singasari, karena dia dianggap
telah menghina Prabu Kertanegara. Kemudian Arya Kamandanu mendalami lagi
Jurus Naga Puspa tahap akhir yang tinggalkan Empu Ranubaya di atas
sebuah batu. Dengan bantuan Empu Lunggah yang merupakan kakak
seperguruan tertua ayahnya, Kamandanu mampu menyempurnakan Jurus Naga
Puspa. Ilmu Kamandanu semakin hebat setelah dia tergigit ular siluman
Naga Puspa Kresna.
Arya Kamandanu kurang beruntung dalam percintaan. Dua kali dia
mengalami kekecewaan akibat ulah kakaknya, Arya Dwipangga. Dua wanita
yang dicintai Kamandanu, yaitu Nari Ratih dan Mei Shindinodai oleh Arya
Dwipangga. Kamandanu kemudian menjadi Panglima Majapahit dan menikah
dengan Sakawuni dan mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama
Jambunada.
Adalah kakak Kamandanu. Dia gemar bersyair dan merayu para wanita
dengan syair-syairnya itu. Dia mudah jatuh cinta pada perempuan cantik,
meskipun perempuan itu kekasih adiknya sendiri. Pertama dia merebut Nari
Ratih dan menikahinya. Dari pernikahannya dengan Nari Ratih Arya
Dwipangga memiliki seorang anak laki-laki yang bernama Panji Ketawang.
Beberapa tahun kemudian Dwipangga bertemu dengan Mei Shin. Arya
Dwipangga langsung jatuh cinta pada Mei Shin. Lagi-lagi Arya Dwipangga
tidak berduli kalau Mei Shin adalah kekasih Kamandanu. Seperti biasa
Arya Dwipangga menggunakan syair-syairnya untuk memikat Mei Shin. Namun
kali ini syair-syair Arya Dwipangga tidak mampu memikat Mei Shin.
Akhirnya Arya Dwipangga menodai Mei Shin dengan menggunakan obat
perangsang, sehingga Mei Shin mengandung dan kemudian melahirkan seorang
anak perempuan bernama Ayu Wandira.
Kamandanu sangat marah atas perbuatan Dwipangga itu. Dihajarnya
Dwipangga hingga tangannya menjadi cacat. Merasa sakit hati Arya
Dwipangga melaporkan Mei Shin kepada pemerintah Kediri, sehingga rumah
Empu Hanggareksa diobrak-abrik dan dibakar. Juga Empu Hanggareksa tewas
dalam kejadian itu.
Arya Dwipangga mabuk-mabukan dan menyiksa Nari Ratih hingga tewas.
Kamandanu murka untuk kedua kalinya. Arya Dwipangga dihajarnya lagi
hingga jatuh ke sumur tua. Di dalam sumur tua itu Arya Dwipangga bertemu
dengan seorang laki-laki misterius yang bernama Watukura. Watukura
mengajarkan Arya Dwipangga jurus Kidung Pamungkas dan jurus Pedang
Kembar. Setelah beberapa tahun lamanya Arya Dwipangga keluar dari sumur
tua itu. Dia menjadi seorang pembunuh berdarah dingin. Semua orang yang
bertemu dengannya pasti mati. Setiap akan melakukan pembunuhan,Arya
Dwipangga selalu bersyair, sehingga dia mendapat julukan Pendekar Syair
Berdarah.
Arya Dwipangga akhirnya bertemu lagi dengan Kamandanu di desa
Kurawan, tempat tinggal mereka dulu. Dan kedua kakak beradik itu
bertarung habis-habisan. Namun Arya Dwipangga tidak mampu mengalahkan
Arya Kamandanu. Ia akhirnya melarikan diri.
Arya Dwipangga bertemu dengan Empu Lunggah. Seperti biasa nafsu
membunuhnya muncul. Namun dia tidak berdaya melawan Empu Lungga, karena
Empu Lunggah menggunakan ilmu Rajut Busana, yaitu sebuah ilmu yang dapat
menghilangkan kesaktian seseorang. Arya Dwipangga kehilangan
kesaktiannya. Jurus Pedang Kembar dan Kidung Pamungkas tidak berarti
lagi.
Tak lama kemudian mata Arya Dwipangga buta. Hal itu disebabkan karena
kutukan seorang pertapa yang bernama Resi Wisambudi yang telah
dibunuhnya.
Arya Dwipangga menyesali semua dosa yang pernah diperbuatnya. Dia
ingin bunuh diri, tapi tidak berhasil. Keadaan Arya Dwipangga tak
ubahnya seperti pengemis. Dalam keadaan seperti itulah Arya Dwipangga
bertemu kembali dengan Mei Shin yang saat itu sudah menjadi tabib
terkenal. Awalnya Mei Shin tidak mau menolong Dwipangga, karena hatinya
masih terluka akibat ulah Dwipangga yang telah merusak hidupnya. Namun
lama-lama Mei Shin kasihan juga pada Arya Dwipangga. Arya Dwipangga
akhirnya dibawa ke tempat tinggal Mei Shin.
Dalam Mahkota Mayangkara, yang merupakan lanjutan Tutur Tinular, Arya
Dwipangga menikah dengan Mei Shin. Pernikahan itu terjadi karena
desakan Ayu Wandira yang menginginkan kedua orangtuanya bersatu. Tentu
saja pernikahan itu hanya formalitas saja, karena Mei Shin tetap tidak
mau hidup bersama Arya Dwipangga.
Setelah Mei Shin meninggal Arya Dwipangga kembali hidup
terlunta-lunta. Namun pada suatu hari Arya Dwipangga bertemu dengan
Prabu Jayanegara yang sedang berburu. Prabu Jayanegara tertarik dengan
kemampuan Arya Dwipangga bersyair. Akhirnya Arya Dwipangga diangkat
menjadi seorang pujangga istana yang bertugas membacakan syair di depan
raja. Dia mengganti namanya menjadi Resi Mahasadu.

Artikel utama untuk bagian ini adalah:
Mei Shin
Adalah seorang pendekar wanita berkebangsaan Mongolia. Bersama
suaminya Lou Shi San, Mei Shin berlayar ke tanah Jawa sambil membawa
Pedang Nagapuspa ciptaan Empu Ranubaya. Namun di Tanah Jawa Mei Shin dan
suaminya malah dikejar-kejar oleh Para prajurit kediri yang dipimpin
oleh Empu Bajil dan Dewi Sambi. Mpu Bajil sangat menginginkan Pedang
Nagapuspa. Oleh karena itu dia terus memburu Mei Shin dan Lou Shi San.
Lou Shi San akhirnya tewas setelah beberapa lama hidup dalam
pesakitan karena terkena Aji Segara Geni milik Mpu Tong Bajil. Mei Shin
yang sebatang kara kemudian di tolong oleh Arya Kamandanu. Dalam
kebersamaannya, kemudian tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya,
namun lagi-lagi Arya Dwipangga merusak hubungan mereka. Mei Shin
dihamili Dwipangga dengan cara yang licik. Namun Akhirnya Kamandanu
tetap bertanggung jawab dan bersedia mengambil wanita cantik dari Cina
itu sebagai istrinya.

Artikel utama untuk bagian ini adalah:
Sakawuni
Adalah seorang gadis yang hidupnya ugal-ugalan. Dia adalah cucu Ki
Sugata Brahma, Pendekar Lengan Seribu. Untuk melampiaskan dendamnya pada
orang-orang Singasari, Sakawuni bergabung dengan orang-orang Kediri.
Namun sebenarnya Sakawuni adalah seorang gadis berjiwa pendekar. Dia
beberapa kali menolong Mei Shin, Lou Shi San, dan Kamandanu dari
gangguan para prajurit kediri secara sembunyi-sembunyi. Dalam sebuah
pertarungan melawan Mpu Bajil dan kawan-kawannya Kamandanu terluka
parah. dia diselamatkan oleh Sakawuni dan dibawa ke rumah kakeknya. Ki
Sugata Brahma mengatakan Bahwa luka Kamandanu bisa disembuhkan dengan
Bunga Tunjung Biru. Untunglah Sakawuni bertemu dengan Kaki Tamparoang.
Atas petunjuk Kaki Tamparoang Sakawuni membawa Kamandanu ke bukit
Panampihan untuk meminta Bunga Tunjung Biru pada pemiliknya yaitu Dewi
Tunjung Biru.
Ternyata Dewi Tunjung Biru adalah ibu kandung sakawuni yang sudah
lama menghilang. Sakawuni senang bisa bertmu dengan ibu kandungnya dan
luka-luka Kamandanu bisa disembuhkan.
Sakawuni pergi ke Majapahit untuk membunuh Banyak Kapuk, perwira
Singasari yang telah meninggalkan ibunya. Hampir saja Banyak Kapuk
terbunuh, namun akhirnya Sakawuni sadar dan mau memaafkan ayahnya itu.
Dia akhirnya bersedia mengabdi pada Majapahit.
Bersama Arya Kamandanu Sakawuni menjalankan tugas sebagai prajurit
Majapahit, termasuk di antaranya adalah menumpas gerombolan perampok
yang dipimpin Empu Bajil. Setelah Gerombolan itu dihancurkan, Sakawuni
dan Arya Kamandanu menikah.
Sayang, Sakawuni meninggal setelah melahirkan akibat mengalami
pendarahan hebat. Sepeninggal Sakawuni Arya Kamandanu mengundurkan diri
dari keprajuritan dan kembali menyepi di lereng Gunung Arjuno bersama
anaknya.
Adalah pendekar sakti, namun kejam. Pendekar cebol dari Lereng
Tengger ini memiliki senjata andalan yaitu tongkat Pencabut Roh dan ilmu
pukulan maut yang bernama Aji Segara Geni. Empu Bajil adalah pemimpin
kelompok pendekar yang membantu Pemerintah Kediri. Dalam sebuah
pertarungan melawan Arya Kamandanu, Tongkat Pencabut Roh patah menjadi
dua. Empu Bajil sangat marah. Dia lalu memperdalam Aji Segara Geni di
Lereng Tengger. Setelah beberapa bulan lamanya Empu Bajil berhasil
memperdalam Aji Segara Geni. Dia kembali turun Gunung. Kembali Empu
Bajil bertarung melawan Arya Kamandanu. Mereka bertarung di Lembah
Kardama. Dalam pertarungan itu Arya Kamandanu kalah dan Pedang Nagapuspa
dapat direbut.
Dengan Pedang Nagapuspa di tangannya Empu Bajil menjadi semakin kuat.
Dia dan kelompok perampoknya membuat kekacauan di mana-mana, bahkan kan
dia berani membuat kekacauan di Majapahit. Namun Empu Bajil tidak lama
memiliki Pedang Nagapuspa. Dengan kekuatan ghaib Nagapuspa Kresna dan
Keris Empu Gandring, akhirnya Arya Kamandanu berhasil merebut kembali
Pedang Nagapuspa. Dan Mpu Tong Bajil pun tewas setelah dadanya terhunjam
Keris Empu Gandring.
Adalah seorang pendekar wanita yang cantik, namun berwajah dingin dan
kejam. Dia adalah kekasih Empu Bajil. Dia sangat mencintai Empu Bajil.
Dia rela meninggalkan gurunya di Gunung Kawi hanya demi cintanya pada
Empu Bajil. Dari hubungannya dengan Empu Bajil, Dewi Sambi mengandung
dan memiliki seorang bayi laki-laki yang bernama Layang Samba. Namun
Layang Samba dipelihara oleh Dewi Upas, guru Dewi Sambi yang memiliki
kesaktian luar biasa. Diantaranya dia menguasai ilmu ular. Dewi Upas
bisa memanggil ribuan ular dan memerintahkan mereka melakukan sesuatu.
Dewi Sambi sangat berduka atas kematian Empu Bajil. Dia berusaha
membalaskan dendam kematian Empu Bajil kepada Arya Kamandanu. Dia
mengirimkan jasad Mpu Bajil yang disertai surat palsu yang berisi
tantangan Arya Kamandanu ke Padepokan Tengger. Maksudnya supaya Wong
Agung marah pada Arya Kamandanu. Akan tetapi Wong Agung tidak
terpancing, karena dia tahu kalau Empu Bajil adalah seorang jahat.
Kemudian Dewi Sambi bersekutu dengan Arya Dwipangga alias Pendekar Syair
Berdarah. Bersama-sama mereka melawan Arya Kamandanu. Namun lagi-lagi
usahanya tidak berhasil.
Dewi Sambi bertemu kembali dengan Mei Shin. Saat itu Mei Shin sedang
dalam perjalanan ke Majapahit untuk mengobati Sang Prabu Kertarajasa
Jayawardana. Dewi Sambi tidak menyangka kalau Mei Shin masih hidup. Dewi
Sambi kemudian bertarung melawan Mei Shin. Dia ingin membunuh Mei Shin
karena Mei Shin dianggap mempunyai hubungan dengan Arya Kamandanu. Namun
Dewi Sambi selalu gagal menyarangkan Pukulan Tapakwisanya ketubuh Mei
Shin. Setiap kali Aji Tapakwisa akan mengenai dirinya Mei Shin selalu
bisa menghindar. Akhirnya Dewi Sambi menggunakan tipu muslihat. Dia
berpura-pura minta maaf pada Mei Shin. Ketika Mei Shin sedang lengah,
Dewi Sambi membokongnya. Tapi lagi-lagi Dewi Sambi tidak berhasil. Aji
Tapakwisa malah membalik pada dirinya, sehingga Dewi Sambi tewas dengan
tubuh terpancang di tonggak kayu. Itu adalah akibat kutukan Resi
Wisambudi seorang pertapa yang dibunuhnya bersama Arya Dwipangga.
Adalah seorang pendekar yang tidak banyak bicara. Dia tidak kalah
sakti dengan Empu Bajil dan Dewi Sambi. Pendekar dari Gunung Petiri ini
mempunyai sebilah pedang ampuh berwarna kuning, sehingga disebut Pedang
Kuning. Dengan Pedang Kuning ini Empu Renteng bisa membunuh lawannya
dalam waktu beberapa detik. Selain itu dia juga memiliki ilmu kebal yang
bernama Blabak Pengantolan. Tak ada senjata yang bisa menembus
kulitnya, termasuk senjata pusaka. Ketika terjadi peperangan antara
Majapahit melawan Kediri Empu Renteng bertarung melawan Ranggalawe. Empu
Renteng mati-matian melawan Ranggalawe. Ternyata Ilmu Blabak
Pengantolan tidak mampu menahan tajamnya Keris Megalamat Ranggalawe,
sehingga Empu Renteng terluka parah. Empu Renteng akhirnya berpisah
dengan Empu Bajil.Dia bermaksud mencari seorang tabib untuk menyembuhkan
luka-lukanya. Namun dia malah bertemu dengan musuh lamanya, yaitu
Watukura.
Watukura ingin menguji sejauh mana kemampuan Arya Dwipangga yang
sudah menguasai Jurus Kidung Pamungkas. Dia menyuruh Arya Dwipangga
untuk bertarung melawan Empu Renteng. Tentu saja Empu Renteng yang
sedang terluka itu tidak mampu melawan Arya Dwipangga. Akhirnya dia
tewas terkena Aji Kidung Pamungkas. Namun pada sisa-sisa kekuatannya
Empu Renteng melemparkan Pedang Kuningnya kepada Watukura, sehingga
Watukura pun tewas.
Keduanya sebenarnya saling mencintai sejak mereka masih sama-sama
muda. Namun keduanya tidak mau mengungkapkan cintanya, sehingga sampai
hari tua mereka tidak bisa hidup bersama. Keduanya selalu bertarung dan
saling ejek setiap bertemu. Nini Ragarunting sering menyebut Kaki
Tamparoang dengan sebutan ”sapi ompong”. Dan Kaki Tamparoang menyebut
Nini Ragarunting dengan sebutan ”kambingpeot”. Namun keduanya juga
saling tolong-menolong jika keadaan sedang genting.
Kaki Tamparoang tewas ketika membantu kemenakannya Gajahbiru yang
memberontak terhadap Majapahit. Kematian Kaki Tamparoang sangat tragis.
Seluruh tubuhnya tertembus anak panah sampai ke mulutnya. Nini
Ragarunting sangat bersedih atas kematian Kaki Tamparoang. Dicabutinya
anak-anak panah yang menancap di tubuh Kaki Tamparoang. Kemudian
dikuburkannya mayat Kaki Tamparoang.
Sampai akhir hayatnya Nini Ragarunting hidup bersama-sama Ayu
Wandira, walaupun beberapa kali sempat terpisah. Bagi Nini Ragarunting
Ayu Wandira sudah dianggap sebagai cucunya sendiri.
Sandiwara radio
Daftar aktor dan aktris
Para aktor dan aktris
pengisi suara dalam sandiwara radio
Tutur Tinular tersebut adalah para artis dari
Sanggar Cerita dan
Sanggar Prathivi, antara lain:
- Ferry Fadli sebagai Arya Kamandanu
- M. Aboed sebagai Arya Dwipangga, Ike Mese, Mpu Sasi, Ma Bo Yie, Sokol
- Lily Nur Indah Sari sebagai Nari Ratih, Luh Jinggan, Sunggi
- Elly Ermawatie sebagai Mei Shin
- Eddy Dhosa sebagai Lo Shi Shan, Mantri Segoro Winotan
- Ivone Rose sebagai Sakawuni
- Asdi Suhastra sebagai Mpu Ranubhaya, serta pembawa cerita untuk seri 091-720
- Hari Akik sebagai Mpu Hanggareksa, Kebo Anengah, Gajah Mada
- Lukman Tambose sebagai Mpu Tong Bajil, Aki Tangkur, Ki Surabaya
- Margareth sebagai Dewi Sambi
- Herry Setiono sebagai Sanggrama Wijaya, Murdaja, Kuda Prana, Ra Yuyu
- Nusri Nurdin sebagai Lembu Sora, Luruh, Gagak Sali, serta pembawa cerita seri 001-090
- Rusli Pontian sebagai Ranggalawe, Suraprabawa, Patih Emban
- Haryoko sebagai Kubilai Khan, Nambi, Aki Lumpang, Mpu Renteng, Resi Wisambudi, Resi Mahalalita, Panji Ketawang dewasa
- Iwan Dahlan sebagai Pranaraja, Aki Pamungsu, Ki Sugata Brahma, Rake Dukut, Ki Panggala, Mantri Prakrama
- Petrus Urspon sebagai Jaran Bangkal, Banyak Kapuk, Jayakatwang, Mei Hua, Gajah Pagon
- Narto Bantul sebagai Ardharaja, Adisara, Rembaka, Ki Talat Waja, Ra Wedeng
- Idris Apandi sebagai Ramapati, Banyak Kapuk, Macan Kumbang, Watukura
- Sono Sudiakso sebagai Arya Wiraraja, Mpu Lunggah, Aki Gumbreg, Rakawikirang
- Nenny Haryoko sebagai Ayu Pupu alias Dewi Tunjung Biru, Nyi Pamungsu
- Anna Sambayon sebagai Nini Raga Runting, Nyi Lemus, Nyi Kelu, Nyi Pamiji
- Mario Kulon sebagai Dangdi, Kaki Tanparoang, Ra Lumbu, Banyak Kapuk,
- Rio Sempana sebagai Panji Ketawang kecil
- Reneth sebagai Ayu Wandira kecil
- Suryadin Tandjung sebagai Jaran Lejong, Pakeling, Kalongpret
- Wenda Lubis sebagai Wirot, Kebo Anabrang, Langkir, Jaran Bangkal, Demung Wira
- Elly Panca sebagai Nyi Rongkot
- Yanwar sebagai Ra Tanca
- Herman Wijaya sebagai Tabib Wong Yin, Silananda Jaya
- Yulie Muliana sebagai Werda Murti, Palastri, Kurantil, Mei Shin, Ayu Wandira dewasa
- Bambang Jeger sebagai Patih Kebo Mundarang, Sudra Palong
- Mamuk Pratomo sebagai Kertanagara, Kebo Kluyur
- Wawan GW sebagai Ganggadara, Ki Bokor
- Benny Indrahadi sebagai Jarawaha, Shih Pie, Sanding, Kuntir, Sampit, Ra Banyak, Jana Lelung
- Sudibyanto sebagai Jaruju, Tambir, Kartawiyoga
- Wahyu Chandra sebagai Balawi, Meng Chi, Ki Janawidi
- A.P. Burhan
sebagai Rakryan Wuruh, Chan Pie, Aki Pamiji, Banyak Dekur, Rake
Patanjana, Rana Dikara, Mpu Tanduk, Wong Agung alias Resi Jana Maha
Dwija
- Eny Budiono sebagai Parwati
- Katarina sebagai Nyi Warih
- Kasdu Dewa sebagai Dipangkara Dasa, Lembu Sora, Ra Podang
- Otis Perkasa sebagai Wong Chau
- Armand Donida sebagai Kau Hsing
- Budi Klontong sebagai Nambi, Ki Julungwangi
- Ai Mudji Rahayu sebagai Nararya Turuk Bali
- Bambang Hermanto sebagai Gajah Pagon, Wong Kilur
- Wied Harry Apriadjie sebagai Marakeh
- Freddy Canser sebagai Medangkungan
- Eddy Juni sebagai Linggapati, Puye, Ike Mese, Nambi
- Rini Marjan sebagai Sariti, Tribhuwaneswari, Nyi Tumpak Seti
- Novia Mandagi sebagai Mahadewi
- Jumirah sebagai Pradnya Paramita
- Wiwiek sebagai Rajapatni
- Mas'ud sebagai Wangsa Halemu
- Yayuk Kristanto sebagai Nyi Sepang
- Mogan Pasaribu sebagai Ra Pangsa
- Elyas sebagai Gajah Biru
Daftar judul episode
Jumlah keseluruhan kisah Tutur Tinular adalah 720 seri yang terbagi
ke dalam 24 episode, atau setiap episode terdiri atas 30 seri dengan
durasi kurang lebih 30 menit dan disiarkan setiap hari. Adapun
judul-judul episodenya adalah sebagai berikut :
- Pelangi di Atas Kurawan, seri 1-30 (bulan ke-1)
- Kisah dari Seberang Lautan, seri 31-60 (bulan ke-2)
- Daun-Daun Bersemi Lagi, seri 61-90 (bulan ke-3)
- Kemelut Cinta di Atas Noda, seri 91-120 (bulan ke-4)
- Perguruan Lopandak, seri 121-150 (bulan ke-5)
- Cahaya Fajar Menembus Hutan Tarik, seri 151-180 (bulan ke-6)
- Mata Air di Tanah Gersang, seri 181-210 (bulan ke-7)
- Angkara Murka Merajalela, seri 211-240 (bulan ke-8)
- Badai Mengamuk di Atas Kediri, seri 141-270 (bulan ke-9)
- Pemberontakan Ranggalawe, seri 271-300 (bulan ke-10)
- Mutiara Ilmu di Atas Batu, seri 301-330 (bulan ke-11)
- Nagapuspa Kresna, seri 331-360 (bulan ke-12)
- Geger Pedang Nagapuspa, seri 361-390 (bulan ke-13)
- Keris Mpu Gandring, seri 391-420 (bulan ke-14)
- Kisah Seorang Prajurit Pelarian, seri 421-450 (bulan ke-15)
- Pemberontakan Gajah Biru, seri 451-480 (bulan ke-16)
- Pendekar Syair Berdarah, seri 481-510 (bulan ke-17)
- Dendam Lama dari Kurawan, seri 511-540 (bulan ke-18)
- Keluarga Prabu Kertarajasa Jayawardhana, seri 541-570 (bulan ke-19)
- Golek Kayu Mandana, seri 571-600 (bulan ke-20)
- Pemberontakan Lembu Sora, seri 601-630 (bulan ke-21)
- Gelapnya Malam Tanpa Bintang, seri 631-660 (bulan ke-22)
- Wong Agung Turun Gunung, seri 661-690 (bulan ke-23)
- Mendung Bergulung di Atas Majapahit, seri 661-720 (bulan ke-24)
Selain itu,
S. Tidjab juga meluncurkan sekuel kelanjutan
Tutur Tinular yang berjudul
Mahkota Mayangkara, berkisah tentang
Kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan
Prabu Jayanagara, di mana pada akhirnya terjadi pemberontakan
Ra Kuti yang berhasil ditumpas oleh
Gajah Mada.
Sebagai lanjutan dari
Mahkota Mayangkara,
S. Tijab telah mempersiapkan sekuel ketiga berjudul
Satria Kekasih Dewa, yang menceritakan generasi anak-anak dari tokoh
Tutur Tinular. Namun produksi sekuel yang ketiga ini terhambat karena belum adanya sponsor sebagai penyandang dana.
Film
Layar lebar
Sukses sandiwara radio
Tutur Tinular membuat para sineas mengangkat kisah ini ke dalam film layar lebar. Tercatat ada empat film
Tutur Tinular dengan judul sebagai berikut:
Seri pertama ini diproduksi oleh
PT. Kanta Indah Film, dengan disutradarai
Nurhadi Irawan dan dibintangi
Benny G. Raharja sebagai Arya kamandanu,
Baron Hermanto sebagai Arya Dwipangga,
Yoseph Hungan sebagai Mpu Ranubhaya,
Elly Ermawatie sebagai Mei Shin, dan
Lamting sebagai Lo Shi Shan.
Kisah diawali dengan kehidupan Arya Kamandanu dan Arya Dwipangga yang
memperebutkan gadis kembang desa bernama Nari Ratih. Berlanjut kemudian
dengan kedatangan utusan Kaisar Kubilai Khan dari bangsa Mongolia yang
menginginkan Prabu Kertanagara menyatakan tunduk. Dalam perjalanan
kembali ke negerinya, utusan tersebut menangkap dan membawa serta Mpu
Ranubhaya, guru Kamandanu.
Di negeri Cina, Ranubhaya menciptakan Pedang Nagapuspa yang kemudian
diserahkan kepada pasangan suami istri Lo Shi Shan dan Mei Shin. Kedua
pendekar ini lantas terdampar di
Pulau Jawa
di mana mereka menjadi buronan para pendekar berwatak jahat yang
mengincar Pedang Nagapuspa. Akhirnya Lo Shi Shan terbunuh, sedangkan Mei
Shin ditolong oleh Arya Kamandanu.
[6]
Sukses dengan Tutur Tinular 1,
PT. Kanta Indah film kembali memproduksi Tutur Tinular 2 dengan Judul
Pedang Naga Puspa Kresna. Seri kedua ini disutradarai oleh
Abdul Kadir dan
Prawoto S. Rahardjo, dengan dibintangi oleh
Hans Wanaghi sebagai
Arya Kamandanu, sedangkan
Mei Shin diperankan oleh
Linda Yanoman.
Film dengan durasi 84 menit ini menceritakan kelanjutan dari seri
pertama. Setelah kematian suaminya, Mei Shin ditampung oleh Kamandanu.
Kecantikan perempuan
Cina ini membuat
Arya Dwipangga
tergoda, meskipun ia sudah mempunyai istri. Terjadilah pemerkosaan
dengan memanfaatkan obat bius, di mana Mei Shin sampai mengandung.
Meskipun sakit hati karena ulah kakaknya, Kamandanu tetap berjiwa besar
mau menikahi Mei Shin. Kemudian Mei Shin memberikan
Pedang Nagapuspa kepada Kamandanu.
Dwipangga yang sakit hati melaporkan ke Kediri bahwa pedang Naga
puspa berada di tangan Kamandanu. Akibatnya, pihak Kediri pun menyerang
rumah ayahnya. Dalam serangan itu
Mpu Hanggareksa, ayah Dwipangga dan Kamandanu, terbunuh.
[7]
Tutur Tinular 3 di produksi
PT. Elang Perkasa Film, dengan sutradara
Prawoto S. Rahardjo yang dibintangi
Sandy Nayoan sebagai Arya Kamandanu, dan
Baron Hermanto sebagai Arya Dwipangga.
Seri ketiga ini mengisahkan kekacauan di wilayah
Kerajaan Majapahit akibat ulah Arya Dwipangga yang muncul kembali sebagai Penddekar Syair Berdarah. Di lain pihak juga muncul
Mpu Tong Bajil
yang menculik beberapa anak kesatria demi menyempurnakan ilmu silatnya.
Salah satu yang ia culik adalah Panji Ketawang, anak Dwipangga yang
diasuh Kamandanu.
Terjadilah pertarungan segitiga antara Kamandanu, Dwipangga, dan Bajil. Kamandanu yang terluka parah ditolong istrinya, yaitu
Sakawuni
dan dibawa ke tempat Mpu Lunggah. Berkat pertolongan Mpu Lunggah dan
putrinya yang bernama Luh Jinggan, Kamandanu dapat pulih kembali dan
mengalahkan Mpu Bajil.
[8]
Seri keempat yang disutradarai
Jopijaya Burnama ini mengisahkan intrik yang ditimbulkan
Ramapati (diperankan
Remy Sylado) untuk menyingkirkan
Arya Kamandanu (kembali diperankan
Benny G. Rahardja) dari Kerajaan Majapahit. Selain itu, Ramapati juga berusaha membunuh
Sanggrama Wijaya raja
Majapahit, dan menggantinya dengan putra mahkota,
Jayanagara, agar bisa menjadi raja boneka bagi dirinya.
Ulah
Ramapati tersebut mendapat bantuan seorang wanita bernama Dewanggi (diperankan
Fitria Anwar,
serta dengan memperalat Dewi Sambi (istri Mpu Bajil) sebagai penebar
racun. Rencana jahat meracuni raja tersebut dapat digagalkan Kamandanu
yang membawa tabib bernama Nyai Paricara, yang tidak lain adalah
Mei Shin.
[9]
Layar kaca
Sukses dalam sandiwara radio dan film layar lebar,
Tutur Tinular kemudian diangkat ke layar perak oleh
PT. Genta Buana Pitaloka pada tahun
1997. Serial ini disutradarai oleh
Muchlis Raya dan skenario ditulis oleh
Imam Tantowi. Ditayangkan pertama kali pada tanggal 25 Oktober 1997 di
ANTeve (Season 1),
Indosiar (Season 2).
Sukses di
ANTeve, sinetron serial
Tutur Tinular kemudian dilanjutkan ke bagian dua yang ditayangkan di
Indosiar. Adapun bagian pertama berkisah tentang kehidupan awal
Arya Kamandanu sampai peresmian
Sanggrama Wijaya sebagai raja
Kerajaan Majapahit. Sementara bagian kedua berkisah tentang pemberontakan
Ranggalawe sampai pemberontakan
Ra Kuti. Dengan demikian, serial sinetron
Tutur Tinular merupakan visualisasi gabungan dua sandiwara radio, yaitu
Tutur Tinular dan
Mahkota Mayangkara.
Setelah sukses ditayangkan di dua stasiun televisi yaitu
ANTeve, dan
Indosiar, Gentabuana Pitaloka mengubah format serial tersebut menjadi
FTV (film televisi) dengan total keseluruhan berjumlah 27 episode, yaitu:
Para pemeran serial
Tutur Tinular: Anto Wijaya, Murti Sari Dewi, Li Yun Juan, Lamting, dengan latar belakang
Tembok Besar Cina.
- Kidung Cinta Arya Kamandanu
- Wasiat Mpu Gandring
- Pelangi di Langit Singasari
- Pedang Naga Puspa
- Pertarungan di Candi Sorabhana
- Kembang Gunung Bromo
- Balada Cinta Mei Shin
- Satria Majapahit
- Bunga Tunjung Biru
- Ayu Wandira
- Prahara di Gunung Arjuno
- Senjakala di Kediri
- Mahkota Majapahit
- Tragedi di Majapahit
- Jurus NagapPuspa
- Misteri Keris Penyebar Maut
- Pengorbanan Mei Shin
- Pendekar Syair Berdarah
- Dendam Arya Dwipangga
- Korban Birahi
- Prahara Naga Krisna
- Karmaphala
- Wanita Persembahan
- Pangeran Buron
- Pemberontakan Nambi
- Pemberontakan Ra Semi
- Gajahmada
Adapun para
aktor dan
aktris yang membintangi serial ini antara lain:
Khusus untuk adegan pembuatan Pedang Naga Puspa yang dikisahkan terjadi di istana
Kubilai Khan, tidak segan-segan para artis dan kru sinetron ini melakukan pengambilan gambar di
Cina seperti di Tembok Besar China dan beberapa tempat lainnya, dengan menggandeng
Studio Cho Cho Beijing untuk bekerja sama. Penyutradaraan selama pengambilan gambar di Cina dikerjakan oleh
Prof. Mu Tik Yen
sutradara kenamaan asal China spesialis sinema kolosal. Adapun para
aktor dan aktris Cina yang ikut terlibat dalam pembuatan seri ini
adalah:
Tidak hanya itu, Li Yun Juan melanjutkan perannya untuk penggambilan gambar di
Indonesia sebagai Mei Shin yang merupakan tokoh utama wanita dalam serial ini.
Dalam sinetron tersebut digunakan teknologi
dubbing, yang masih menggunakan suara para artis
PT. Prathivi Kartika Film
sebagaimana versi sandiwara radio. walaupun ada beberapa tokoh yang
tidak di dubbing oleh pengisi suara yang sebenarnya sebagaimana
penokohan dalam sandiwara radionya, sinetron ini masih patut untuk di
tonton, seperti contohnya tokoh Arya Dwipangga yang dalam sandiwara
radio di perankan oleh
M. Aboed namun dalam sinetron ini dubbing oleh
Petrus Urspon
walau akhirnya pada season kedua tokoh Arya Dwipangga akhirnya di
dubbing juga oleh tokoh aslinya dalam sandiwara radio yaitu M. Aboed,
dalam berbagai judul sandiwara radio M. Aboed adalah spesialis untuk
tokoh dengan aksen-aksen suara yang khusus untuk melantunkan syair-syair
seperti dalam tokoh Arya Dwipangga ini yang dalam penokohannya adalah
seorang sastrawan dan seorang pendekar yang selalu melantunkan
syair-syair yang indah dan mengerikan, dengan syairnya Arya Dwipangga
mampu menaklukkan banyak wanita namun dengan syairnya juga ia mampu
melukai bahkan membunuh para musuh-musuhnya.
Tutur Tinular versi 2011-2012
Karena sukses besar pada serial televisi sebelumnya, pada tahun 2011,
Tutur Tinular kembali diangkat dan dikemas dalam sebuah sinetron dengan
warna yang berbeda menjadi sebuah serial laga oleh Genta Buana Paramita
yang ditayangkan di Indosiar. Tutur Tinular Versi 2011 ini juga banyak
melibatkan aktor dan aktris pendatang baru. Proses sulih suara yang
menjadi ciri khas sinetron laga pun ditiadakan. Berbeda dengan versi
lama tahun 1997 yang tayang satu minggu satu kali, maka versi 2011 ini
tayang setiap hari dengan durasi selama 2 jam. Meskipun pada awal
penayangannya, sinetron ini sudah masuk dalam rating 10 besar program
televisi pilihan di Indonesia. Namun serial yang salah satu Sutradaranya
berasal dari India ini banyak menuai kritik dan protes dari masyarakat
maupun para pecinta fanatik sandiwara Tutur Tinular.
[rujukan?]
Hal ini dikarenakan alur cerita yang dianggap telah melenceng dari
cerita aslinya yang sarat dengan kejadian-kejadian sejarah. Tutur
Tinular versi 2011 lebih menonjolkan kisah percintaan dan konflik dalam
keluarga, dengan selingan lagu dangdut seperti halnya film
Bollywood India, serta bermunculan tokoh-tokoh baru yang tidak ada dalam versi sandiwara radio, seperti, pahlawan bertopeng,
Respati dan
Laksmi, juga
Pangeran Bentar yang sebenarnya merupakan tokoh dalam cerita
Saur Sepuh ciptaan
Niki Kosasih. Setelah beberapa episode muncul juga beberapa tokoh yang diambil dari kisah atau legenda yang berbeda, seperti
Khanza,
Krishna, dan
Arimbi, yang merupakan tokoh dari epos
Mahabharata, menyusul kemudian
Mak Lampir dan
Gerandong dari cerita
Misteri Gunung Merapi. Di samping itu, kostum dan lokasi kerajaan yang digunakan juga tidak mencerminkan
era Hindu-Budha zaman Kerajaan
Singhasari-
Majapahit, melainkan lebih mirip era kerajaan
Mataram Islam, sedangkan kebudayaannya pun mirip seperti campuran
Melayu,
India, dan
Cina.
[rujukan?]
Ciri lainnya dari sinetron ini adalah adanya tokoh dari benda-benda
mati seperti siluman sepatu, wayang, tongkat, dan kelapa yang semuanya
bisa berbicara dan melakukan sesuatu layaknya manusia. Juga adanya
interaksi antara tokoh-tokoh benda mati tersebut, seperti tokoh tongkat
Mak Lampir dan siluman asap yang berpacaran. Berbagai macam binatang
seperti marmut, anjing, kucing, burung, ikan dan lain-lain dapat
berbicara, bayi yang masih dalam kandungan juga sudah bisa berbicara,
selain itu ada juga bayi yang langsung menjadi orang dewasa setelah
dilahirkan. Lalu ada pernikahan antara manusia dan bangsa siluman
raksasa
Arimbi
dari kisah Pewayangan yang kemudian melahirkan bayi Bajang dan kemudian
menikahi manusia lagi dan lain sebagainya. Ketika ratingnya menurun
drastis dan sering terlempar dari 30 besar pada saat memasuki
episode-episode akhir,
Wong Fei Hung, tokoh sejarah pahlawan dari Cina pun dimasukkan.
[rujukan?]
Tak mampu mendongkrak rating, akhirnya Genta Buana Paramita pun memasukkan tokoh fiksi pahlawan super dari Amerika Serikat,
Batman, beserta musuh bebuyutannya,
Joker. Dan juga mereka memasukkan karakter
Gundam dan
Kratos
dalam sinetron ini. Ini membuat sinetron ini menuai kontroversi dan
banyak dikritik di berbagai situs maupun jejaring sosial, karena dinilai
tidak masuk akal, penjiplak, tidak mendidik.
Karena demikian, banyak para penonton yang mengkritik dan menilai bahwa sinetron tersebut sebagai sebuah sinetron
Parodi atau
Komedi seperti layaknya film komedi
Hollywood yang berjudul
Scary Movie,
yaitu film komedi konyol yang banyak menampilkan tokoh-tokoh fiksi
maupun sungguhan beserta adegan dari film-film terkenal sebelumnya.
[rujukan?]
Referensi
Pranala luar